Kamis, 30 April 2015

TAHUN 1963 

MERAH PUTIH





Warna merah-putih bendera negara diambil dari warna panji atau pataka Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur pada abad ke-13. Akan tetapi ada pendapat bahwa pemuliaan terhadap warna merah dan putih dapat ditelusuri akar asal-mulanya dari mitologi bangsa Austronesia mengenai Bunda Bumi dan Bapak Langit; keduanya dilambangkan dengan warna merah (tanah) dan putih (langit). Karena hal inilah maka warna merah dan putih kerap muncul dalam lambang-lambang Austronesia — dari Tahiti, Indonesia, sampai Madagaskar. Merah dan putih kemudian digunakan untuk melambangkan dualisme alam yang saling berpasangan. Catatan paling awal yang menyebut penggunaan bendera merah putih dapat ditemukan dalam Pararaton; menurut sumber ini disebutkan balatentara Jayakatwang dari Gelang-gelang mengibarkan panji berwarna merah dan putih saat menyerangSinghasari. Hal ini berarti sebelum masa Majapahit pun warna merah dan putih telah digunakan sebagai panji kerajaan, mungkin sejak masa Kerajaan Kediri. Pembuatan panji merah putih pun sudah dimungkinkan dalam teknik pewarnaan tekstil di Indonesia purba. Warna putih adalah warna alami kapuk atau kapas katun yang ditenun menjadi selembar kain, sementara zat pewarna merah alami diperoleh dari daun pohon jati, bunga belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi), atau dari kulit buah manggis.
Sebenarnya tidak hanya kerajaan Majapahit saja yang memakai bendera merah putih sebagai lambang kebesaran. Sebelum Majapahit, kerajaan Kediri telah memakai panji-panji merah putih. Selain itu, bendera perang Sisingamangaraja IX dari tanah Batak pun memakai warna merah putih sebagai warna benderanya , bergambar pedang kembar warna putih dengan dasar merah menyala dan putih. Warna merah dan putih ini adalah bendera perang Sisingamangaraja XII. Dua pedang kembar melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII. Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang – pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran. Di zaman kerajaan Bugis Bone,Sulawesi Selatan sebelum Arung Palakka, bendera Merah Putih, adalah simbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan Bone.Bendera Bone itu dikenal dengan nama Woromporang. Panji kerajaan Badung yang berpusat di Puri Pamecutan juga mengandung warna merah dan putih, panji mereka berwarna merah, putih, dan hitam yang mungkin juga berasal dari warna Majapahit.
Pada waktu perang Jawa (1825-1830 M) Pangeran Diponegoro memakai panji-panji berwarna merah putih dalam perjuangannya melawan Belanda. Kemudian, warna-warna yang dihidupkan kembali oleh para mahasiswa dan kemudian nasionalis di awal abad 20 sebagai ekspresi nasionalisme terhadap Belanda. Bendera merah putih digunakan untuk pertama kalinya di Jawa pada tahun 1928. Di bawah pemerintahan kolonialisme, bendera itu dilarang digunakan. Bendera ini resmi dijadikan sebagai bendera nasional Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, ketika kemerdekaan diumumkan dan resmi digunakan sejak saat itu pula. 

Prangko Istimewa "Merah Putih dari Sabang sampai Merauke"

Tanggal Terbit : 1 Mei 1963

TAHUN 1965

HOTEL-HOTEL PARIWISATA






Hotel Ambarrukmo dibuka pada tahun 1966 sebagai hotel mewah pertama di Yogyakarta. Menurut Director of Sales & Marketing, Fadli Fahmi Ali, hotel tersebut terdiri dari dua sayap. Sayap pertama dengan panorama ke arah Gunung Merapi dibangun tahun 1965. Kemudian disusul sayap kedua yang dibangun pada tahun 1974.
Berbicara sejarah hotel ini tidak bisa lepas dari Sultan Hamengku Buwono V yang membangun Pesanggrahan Ambarrukmo. Pada tahun 1895-1897, bangunan ini direnovasi oleh Sultan Hamengku Buwono VII. Awalnya bangunan tersebut digunakan sebagai tempat menjamu tamu.
Tempat ini kemudian menjadi kediaman Sultan Hamengku Buwono VII saat turun takhta. Area Kebon Raja sampai Gandok Kiwa di masa Sultan Hamengku Buwono VII pun berubah menjadi area Hotel Ambarrukmo pada tahun 1966. Sementara area Balekambang sampai Pendopo tidak beralih fungsi.
Hotel Ambarukmo yang merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Yogyakarta ini diresmikan pengoperasiannya pada era tahun 1960-an saat Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat sebagai Menteri Ekuin.
Hotel ini dulunya dibangun dengan dana pampasan perang Jepang yang merupakan hasil dari perjanjian bilateral antara Indonesia dengan Jepang pada 28 Januari 1958 soal pampasan perang yang disahkan DPRRI pada tanggal 13 Maret 1958 dan diundangkan pada 27 Maret 1958.
Dana pampasan perang Jepang itu juga dipakai untuk membangun Hotel Indonesia di Jakarta, Samudera Beach Hotel di pantai Pelabuhan Ratu, Bali Beach Hotel di pantai Sanur Bali, gedung toserba Sarinah di Jakarta, simpang susun Semanggi di Jakarta, stadion utama Gelora Bung Karno di Senayan Jakarta, Bendungan Jatiluhur di Jawa Barat, Gedung MPR/DPR di Jakarta, Tugu Monas di Jakarta, Masjid Agung Istiqlal di Jakarta, dan beberapa yang lainnya.
Menurut rencana, Pesanggrahan Ambarukmo yang dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono V (1823-1855) dan diselesaikan pada masa Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921), juga akan direvitalisasi dan dioperasikan kembali sebagai gedung pertemuan dan resepsi pernikahan.
Pesanggrahan Ambarukmo ini dulunya merupakan tempat kediaman Sultan Hamengku Buwono VII sesaat setelah beliau turun tahta atau lengser keprabon dan madheg mandhito.
Beliau disebut Sultan Sugih lantaran pada masa pemerintahannya, pemerintah Hindia Belanda banyak mendirikan pabrik gula di Yogyakarta sampai hampir mencapai 20 buah, yang salah satunya masih beroperasi sampai hari ini adalah pabrik gula Madukismo.
Turun tahtanya Sultan Hamengku Buwono VII atau Sultan Sugih yang wafat pada tanggal 30 Desember 1931 ini, sampai hari ini masih menimbulkan tanda tanya seputar peristiwa itu, mengingat tidak banyak Sultan di kerajaan Mataram yang turun tahta sebelum wafat.
Lantaran itulah maka muncul rumor pula bahwa Sultan di era sesudahnya tak akan ada yang wafat di istananya, lantaran Sultan Hamengku Buwono VII sesaat setelah turun tahta pernah berucap sepoto yang bahwasanya, “Tidak akan pernah ada raja yang meninggal di keraton setelah saya”.
Akhirulkalam, umur dan cara kematian serta tempat kematian merupakan rahasia milik Allah SWT semata.
Namun, wafatnya Sultan Hamengku Buwono VIII saat diperjalanan dari Batavia ke Yogyakarta, dan Sultan Hamengku Buwono IX saat berada di Washington DC Amerika Serikat, adakah hubungannya dengan ucapannya Sultan Hamengku Buwono VII tersebut ?.
Prangko Istimewa : Hotel-hotel Pariwisata
Tanggal Penerbitan : 1 Desember 1965

Rabu, 29 April 2015

TAHUN 1963 

PAMERAN NASIONAL PHILATELI DAN KONGGRES KE I DI SURABAJA



VANDA TRICOLOR

Lereng Selatan Gunung Merapi yang terletak di Kabupaten Sleman Jogjakarta masih menyimpan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Vegetasi yang menutupi wilayah ini meliputi padang rumput, semak belukar dan vegetasi pohon besar. Struktur vegetasi demikian merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan anggrek, baik itu anggrek tanah maupun anggrek epifit. Eksplorasi dan identifikasi yang dilakukan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Yogyakarta menemukan sekitar 53 jenis anggrek alam. Sebagian besar anggrek tersebut adalah epifit (menempel pada batang pohon). Salah satu anggrek khas daerah ini yang hampir punah keberadaannya di lereng Selatan Merapi adalah Vanda tricolor.
Anggrek berbunga putih dengan bercak totol ungu kemerahan ini dulunya sangat banyak dan tumbuh liar di pohon dadap, angsana dan pohon-pohon tahunan lainnya. Akan tetapi, bencana semburan awan panas pada tahun 1994 telah menghanguskan 80 % habitat asli anggrek ini. Belum lagi kebakaran besar di hutan lindung dan Cagar Alam Plawangan Turgo pada tanggal 16-20 Oktober 2002, ditambah ancaman awan panas pada tahun 2006 yang semakin mengancam keberadaan anggrek species merapi di alam. Disamping faktor alam, faktor sosialpun sangat berpengaruh besar terhadap populasi anggrek ini. Masyarakat sekitar banyak yang mengkoleksi kemudian menjualnya kepada nursery-nurseri atau para pemesan dari luar kota. Akibat dari semua itu, saat ini hamper tidak mungkin lagi menjumpai anggrek tersebut di habitat aslinya.
Wujud upaya pelestarian yang telah dilakukan BKSDA untuk meningkatkan populasi vanda tricolor adalah melaksanakan usaha penangkaran yang berbasiskan kemasyarakatan dengan membentuk 5 kelompok tani konservasi dari 3 Kecamatan di Lereng Selatan Gunung Merapi. Upaya budidaya yang dilakukan kelima kelompok tani tersebut dinilai masih kurang optimal. Ketidaktepatan teknik budidaya yang dilakukan menyebabkan lambatnya pertumbuhan dan perkembangbiakan Vanda tricolor.
Dengan hasil budidaya yang masih minim, pada tahun 2002, BKSDA membeli 80 batang dari kelima kelompok tani konservasi tersebut kemudian merelokasikannya ke blok Tlogo Muncar, Kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Plawangan Turgo. Akan tetapi setahun kemudian, dari observasi penulis yang dilakukan pada tahun 2004, dari 80 batang hanya 36 batang yang tersisa, 15 batang diantaranya dalam kondisi kritis. Masalah yang saat ini dihadapi adalah bagaimana memperbaiki teknik budidaya maupun teknik relokasi dengan pendekatan agronomis yang meliputi pengelolaan terhadap lingkungan tumbuh serta pengelolaan terhadap tanaman itu sendiri sehingga menciptakan interaksi positif yang mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan Vanda tricolor serta meningkatkan kemampuan hidupnya di habitat relokasi.*)
*) http://anggrek.org
Sampul Peringatan : "PAMERAN NASIONAL PHILATELI DAN KONGGRES KE I DI SURABAJA"
Tanggal Penerbitan : 29 APRIL 1963


Selasa, 28 April 2015

TAHUN 1963

KONFERENSI WARTAWAN ASIA-AFRIKA (KWAA)





KONFERENSI WARTAWAN ASIA - AFRIKA SEBAGAI MIMBAR BUNG KARNO



Oleh :A. Umar Said
Renungan dan catatan tentang BUNG KARNO (7)
Ada satu hal yang selama lebih dari 32 tahun jarang disebut-sebut, sehingga banyak orang yang sudah tidak ingat lagi, atau bahkan tidak tahu (terutama generasi muda sekarang), walaupun hal itu pernah menjadi "national event" (peristiwa nasional) dan bahkan juga "international event" yang cukup berkumandang luas waktu itu. Peristiwa nasional (dan international) penting ini adalah Konferensi Wartawan Asia-Afrika (KWAA) yang diadakan di Jakarta antara tanggal 24 April sampai 1 Mei 1963 di Jakarta. Oleh karena pentingnya peran Bung Karno atas terselenggaranya KWAA, maka sudah sepatutnyalah bahwa dalam rangka Peringatan HUT ke-100 Bung Karno masalah ini dikenang kembali bersama-sama.
Bagi banyak wartawan anggota PWI di seluruh Indonesia waktu itu, KWAA adalah suatu kenangan yang menimbulkan rasa bangga. Sebab, KWAA adalah suatu konferensi internasional yang diselenggarakan untuk pertama kalinya oleh para wartawan Indonesia sendiri, dengan mendapat dukungan yang besar secara nasional. Untuk penyelenggaraan konferensi yang besar itu, banyak cabang PWI mengumpulkan dana dengan mengadakan "lelang KWAA" di berbagai kota besar, termasuk di Istana Bogor. Banyak gubernur atau pembesar daerah ikut memberikan fasilitas kepada PWI setempat untuk terlaksananya pengumpulan dana itu (antara lain : gubernur Sutedja di Bali dan Ulung Sitepu di Sumatra Utara).
Dalam rangka ini, peran Bung Karno adalah besar sekali. Sebab ketika delegasi PWI Pusat (dipimpin oleh Djawoto, ketua PWI Pusat dan tokoh besar kantor berita Antara sejak zaman Yogya) menghadap Bung Karno akhir 1962 untuk menyampaikan gagasan tentang penyelenggaraan KWAA, Bung Karno segera menyetujuinya. Berita persetujuan Bung Karno ini kemudian menjadi cambuk bagi banyak wartawan Indonesia untuk segera melaksanakan gagasan ini. Pada mulanya, gagasan untuk menyelenggarakan Konferensi Wartawan Asia-Afrika telah lahir di Bandung dalam tahun 1955 ketika sejumlah wartawan Indonesia membicarakan perlunya dibentuk suatu organisasi wartawan Asia-Afrika untuk mengumandangkan semangat dan keputusan-keputusan Konferensi Bandung ke dunia internasional. Pembicaraan itu telah dilakukan antara wartawan-wartawan Indonesia dan sejumlah wartawan-wartawan Asia-Afrika, yang meliput konferensi yang bersejarah itu.
Kemudian, gagasan ini mulai melangkah ke tahap realisasinya, ketika sejumlah wartawan Indonesia menghadiri kongres International Organisation of Journalists (IOJ) di Budapest bulan Oktober 1962. Tanda-tangan dari berbagai delegasi organisasi wartawan negeri-negeri Asia-Afrika yang hadir dalam kongres itu telah dapat dikumpulkan, sebagai persetujuan tentang diselenggarakannya KWAA di Indonesia. Berdasarkan persetujuan itulah, maka kemudian dibentuk Panitia KWAA di Jakarta, dengan kerjasama yang erat dengan PWI Pusat.
ARTI BESAR KESUKSESAN KWAA
Bagi mereka yang masih bisa membaca penerbitan Indonesia (suratkabar, majalah dll) sekitar akhir tahun 1962 sampai pertengahan tahun 1963, akan jelaslah betapa besarnya kumandang KWAA waktu itu, baik selama persiapan-persiapannya, waktu terselenggaranya, dan juga sesudahnya. Konferensi yang diselenggarakan di Wisma Warta (Jalan Thamrin, yang sekarang dirombak menjadi Plaza Indonesia/Grand Hyat Hotel) menjadi pusat perhatian dunia internasional waktu itu. Wajar, sebab selain para pesertanya adalah pada umumnya wartawan-wartawan Asia-Afrika yang terkemuka di negeri masing-masing, juga banyak wartawan-wartawan asing (Eropa dll) yang meliput peristiwa itu.
Dengan tujuan untuk melestarikan dengan setia jiwa Konferensi Asia-Afrika di Bandung (18-25 April tahun 1955) maka Panitia KWAA telah menetapkan bahwa konferensi yang bersejarah secara internasional itu perlu diselenggarakan tepat sewindu (8 tahun) sesudahnya, yaitu antara 24 April-sampai 1 Mei 1963. Jiwa Konferensi Bandung inilah yang menjadi dasar pembimbing segala kegiatan Panitia KWAA (dalam surat-surat, seruan, undangan, pernyataan dll). Karena itu pulalah maka KWAA mempunyai daya tarik yang besar bagi banyak fihak, baik secara nasional maupun secara internasional.
KWAA merupakan alat yang dibutuhkan waktu itu bagi perjuangan rakyat berbagai negeri Asia-Afrika dalam memperjuangkan kemerdekaan nasional mereka, atau untuk memperkokoh kemerdekaan yang sudah dicapai, dalam menghadapi imperialisme dan neo-kolonialisme, waktu itu!. Berikut adalah sekadar bahan untuk ingatan bersama tentang situasi nasional dan internasional waktu itu : dalam tahun-tahun 62-63 baru ada 8 negeri Afrika yang bebas, Aljazair baru merebut kemerdekaannya dari Prancis dengan bantuan negara-negara Arab, di Mozambigue dan Angola mulai ada pembrontakan melawan Portugal, di Africa Selatan gerakan melawan Apartheid yang dipimpin oleh ANC (Nelson Mandela dkk) dan PAC makin membesar, Timur Tengah merupakan gudang mesiu peperangan, perang di Indo-Cina makin berkobar, dan ketegangan antara RRT dan AS berlangsung terus. Sedangkan di Indonesia sendiri : pembrontakan PPRI-Permesta baru beberapa tahun diselesaikan secara tuntas (1960-1961), Manipol-Usdek dideklarasikan oleh Bung Karno, kampanye konfrontasi Malaysia dilancarkan (1963), percobaan pembunuhan dengan granat terhadap Bung Karno di Makasar (Januari 1962).
Dalam situasi nasional dan internasional yang demikian itulah Panitia Pusat KWAA harus bekerja. Banyak wartawan-wartawan anggota PWI Cabang Jakarta telah dengan sukarela menyumbangkan tenaga (tanpa imbalan uang sedikit pun), dan bekerja keras siang malam. Sebab, waktu yang tersedia hanyalah 4-5 bulan saja, untuk menyelenggarakan konferensi yang besar ini. Berkat kerja keras para wartawan yang menyumbangkan tenaga mereka dalam Panitia, maka KWAA dapat diselenggarakan dengan sukses. Kesuksesan ini dikonfirmasi oleh pernyataan berbagai fihak bahwa KWAA adalah konferensi yang bisa menjadi contoh bagi konferensi-konferensi lainnya. (Umpamanya, dalam bidang keuangan, KWAA adalah satu-satunya konferensi yang mengambil inisiatif untuk minta kepada suatu kantor akuntan supaya memeriksa pengelolaan dana atau pembukuannya. Hasil pemeriksaan akuntan ini kemudian diumumkan oleh KB Antara dan dimuat oleh pers)
KWAA ADALAH CORONG KONFERENSI BANDUNG
Mengingat berbagai faktor situasi nasional dan internasional waktu itu, maka dapat dimengertilah kiranya bahwa ada orang-orang yang waktu itu secara sinis mengatakan bahwa KWAA adalah corong Bung Karno. Kalau dilihat dari sudut-pandang positif, ungkapan semacam itu tidaklah sepenuhnya salah. KWAA telah dilahirkan dengan tujuan untuk mengumandangkan terus atau melestarikan jiwa atau prinsip-prinsip Konferensi Bandung, dan mempersatukan wartawan-wartawan berbagai negeri Asia-Afrika dalam perjuangan-bersama untuk merealisasikan prinsip-prinsip tersebut. Karena politik Bung Karno adalah sejalan dan senyawa dengan jiwa Konferensi Bandung, maka tidak salah kalau dikatakan bahwa KWAA telah menjadi corong politik Bung Karno di skala internasional. (Dengan kacamata ini, maka akan hilanglah konotasi negatif kata corong). Sebab, kalau diperas dalam kalimat yang sederhana dapatlah dirumuskan bahwa jiwa Bung Karno dan jiwa Konferensi Bandung adalah SATU.
Kalau direnungkan dalam-dalam, maka benarlah bahwa KWAA telah menjadikan diri sebagai mimbar emas bagi Bung Karno untuk mengumandangkan gagasan-gagasannya yang besar. Mimbar emas ini telah disediakan atau dibangun bersama-sama oleh para wartawan peserta konferensi. Ini kelihatan jelas sekali dari pidato-pidato yang diucapkan oleh para peserta. Boleh dikatakan, semua delegasi menyebut arti penting Konferensi Bandung dan banyak yang menghargai politik Bung Karno dalam membantu perjuangan rakyat-rakyat Asia-Afrika dalam melawan imperialisme dan neo-kolonialisme. Jadi, singkatnya, KWAA adalah konferensi yang jiwanya, pada pokoknya, adalah anti-imperialisme dan neo-kolonialisme, seiring dengan perkembangan situasi internasional waktu itu.
KWAA telah melahirkan PWAA (Afro-Asian Journalists Association - AAJA). Komposisi anggota Sekretariat Permanen PWAA (Persatuan Wartawan Asia-Afrika) yang berkedudukan di Jakarta, yang terdiri dari 11 negeri (5 Asia dan 5 Afrika dan satu Sekjen) mencerminkan dengan gamblang arah yang ditempuh oleh PWAA. Mereka ini, yang dari Asia adalah perwakilan organisasi wartawan : Tiongkok, Jepang, Indonesia, Srilanka dan Siria. Yang dari Afrika : Aljazair, Mali, Afrika Selatan, Tanzania, dan Kamerun.
Untuk menduduki jabatan Sekjen PWAA, para peserta konferensi telah memilih wartawan Indonesia terkemuka Djawoto. Dan ketika tidak lama kemudian Bung Karno mengangkatnya sebagai Duta Besar Indonesia untuk RRT, maka PWAA telah memilih wartawan terkemuka Joesoef Isak sebagai Pejabat Sekjen.
KONFERENSI BANDUNG KEHILANGAN API
Adalah amat penting untuk diketahui oleh generasi sekarang (dan juga generasi yang akan datang), bahwa Indonesia, di bawah kepemimpinan Bung Karno, pernah memainkan peran penting dalam perjuangan rakyat berbagai negeri Asia-Afrika. Tetapi, setelah Bung Karno digulingkan oleh Suharto dkk. maka peran Indonesia yang pernah dikagumi banyak orang itu, makin lama makin hilang dari panggung internasional. Dengan hilangnya Bung Karno dari kepemimpinan nasional dan dilumpuhkannya kekuatan progresif yang mendukungnya, maka pamor nama Indonesia menjadi pudar. Dengan hilangnya Bung Karno, maka api Konferensi Bandung tidak bisa lagi berkobar seperti biasanya, dan, bahkan, secara perlahan-lahan menjadi padam. Namun, betapapun juga, nama Bung Karno dan Konferensi Bandung tetap tercetak dengan huruf emas dalam sejarah dunia, terutama sejarah perjuangan rakyat-rakyat Asia-Afrika.
Bagi para diplomat Indonesia yang berjuang (mohon perhatian bahwa kata berjuang dipakai di sini), di berbagai KBRI di banyak negeri waktu itu nyata sekali gejala yang demikian ini. Juga bagi banyak tokoh ormas Indonesia yang bekerja di berbagai organisasi internasional seperti : Organisasi untuk Setiakawan Rakyat Asia-Afrika (OSRAA) di Cairo, Sekretariat Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Colombo, Sekretariat Konferensi Jurist Asia-Afrika di Conakri (Guinea), Gabungan Serikatburuh Sedunia (WFTU) di Praha, Gabungan Pemuda Demokratik Sedunia (WFDY) di Budapest, Persatuan Mahasiswa Sedunia (IUS) di Praha, Organisasi Wartawan Sedunia (IOJ) di Praha, Gabungan Wanita Demokratik Sedunia di Berlin dan organisasi-organisasi internasional lainnya, termasuk Persatuan Wartawan Asia-Afrika.
Dalam kaitan itu semuanya dan dalam rangka memperingati HUT ke-100 Bung Karno, maka adalah menarik untuk sama-sama kita telaah berbagai gejala atau perkembangan setelah tergulingnya Bung Karno oleh para pendiri Orde Baru/Golkar, yang antara lain adalah sebagai berikut :

- Naiknya Suharto di tampuk pimpinan negara dengan menggulingkan Bung Karno, dan didirikannya rezim militer Orde Baru/Golkar, mengakibatkan nama Indonesia menjadi terpuruk di mata banyak gerakan rakyat Asia-Afrika dan dunia umumnya. Penggulingan Bung Karno yang didahului oleh pembunuhan jutaan warganegara Indonesia dan diiringi pula oleh pemenjaraan ratusan ribu orang tidak bersalah selama puluhan tahun, mereka anggap sebagai noda besar atau dosa monumental.

- Ketokohan besar Bung Karno sebagai pemimpin bangsa tidak bisa ditiru atau digantikan oleh Suharto (atau tokoh Orde Baru lainnya!). Karena, ketokohan Bung Karno ini telah dibangun dalam perjuangannya sejak tahun 1926, dan sejak dalam penjara Sukamiskin (Bandung). Ketokohannya ini sudah muncul dalam Indonesia Menggugat. Dari latar-belakang sejarah yang ini saja sudah nampak perbedaannya yang besar dengan ketokohan Suharto. Kepemimpinan Suharto selama Orde Baru makin menunjukkan dengan jelas perbedaan yang besar antara mereka.

- Kalau Bung Karno melahirkan sejumlah gagasan-gagasan besar tentang perjuangan untuk kepentingan rakyat dan pembangunan bangsa (ingat, antara lain : Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945) maka pengalaman selama lebih dari 32 tahun menunjukkan bahwa Suharto (dan kawan-kawannya di Orde Baru/Golkar) tidak bisa menciptakan gagasan-gagasan besar. Bahkan sebaliknya, Suharto beserta Orde Baru/Golkar-nya telah merusak gagasan-gagasan besar Bung Karno, yang akibatnya adalah keadaan seperti yang sedang dihadapi oleh bangsa dan negara kita dewasa ini.

PERISTIWA PENTING YANG DILUPAKAN

Dengan melihat latar-belakang yang demikian, maka orang bisa mengerti mengapa setelah Bung Karno digulingkan oleh para pendiri Orde Baru/Golkar, maka banyak hal yang bersangkutan dengan KWAA atau PWAA kemudian juga seolah-olah menghilang dari persoalan bangsa Indonesia. Disebabkan oleh politik Orde Baru, maka semakin lama semakin banyak orang yang melupakannya. Bahkan, banyak orang yang sekarang ini tidak tahu bahwa ada peristiwa yang begitu penting dalam sejarah dunia kewartawanan Indonesia.

Politik Orde Baru adalah, sebisa mungkin (dan dengan segala cara) mengkerdilkan atau menghilangkan peran Bung Karno dalam segala hal, termasuk juga hal-hal yang berkaitan dengan terselenggaranya KWAA. Orde Baru melihat hubungan yang erat antara politik Bung Karno dengan arah politik Konferensi Bandung dan arah politik yang dianut oleh KWAA (dan PWAA). Di antara cara-cara untuk mengkerdilkan atau menghilangkan peran Bung Karno adalah, antara lain : disebarkannya fitnah, insinuasi, atau ungkapan-ungkapan negatif seperti : Bung Karno adalah megalomaniac (gila terhadap segala yang besar), seorang demagog (pembangkit semangat rakyat demi kekuasaan), seorang yang suka menonjolkan diri, seorang yang menyukai kultus individu, seorang yang mengutamakan gebyar, dan segala macam cap negatif lainnya, yang selama ini sudah kita dengar.
Pengalaman penyelenggaraan KWAA menunjukkan bahwa penghormatan kalangan wartawan Indonesia dan negeri-negeri Asia-Afrika (pada waktu itu) bukanlah karena penjilatan, bukan karena permintaannya untuk dihormati atau disanjung-sanjung, dan pastilah bukan pula karena ia seorang yang megalomanic atau demagog. Penghormatan kepadanya adalah karena bagi banyak orang ia memang seorang yang patut dan berhak dihormati, baik secara nasional mau pun internasional. Bung Karno memang adalah orang besar, berkat kebesaran gagasan-gagasan atau ajaran-ajarannya, yang dibutuhkan untuk menjawab perkembangan situasi pada masanya.

Pidatonya di depan KWAA adalah salah satu contoh di antara berbagai gagasannya yang besar. Hampir selama satu jam ia berbicara (dalam bahasa Inggris yang mempesonakan banyak peserta) tentang situasi Indonesia waktu itu, tentang tugas-tugas revolusi rakyat Indonesia, tentang seruannya kepada wartawan-wartawan Asia-Afrika untuk mengabdikan diri kepada perjuangan rakyat berbagai negeri demi kesejahteraan ummat dan perdamaian. Untuk kesekian kalinya, Bung Karno menunjukkan kepada masyarakat internasional, siapakah dia, apa yang dicita-citakannya. Untuk kesekian kalinya pula ia menunjukkan diri sebagai seorang yang konsisten, atau yang setia, kepada komitmen yang sudah dipikulnya sejak muda, yaitu sebagai seorang pejuang revolusioner yang gigih..
KWAA sudah terjadi 37 tahun yang lalu. Zaman pun sudah berobah, situasi dalamnegeri dan situasi internasional juga sudah mengalami perobahan-perobahan yang tidak kecil. Namun, adalah sayang sekali bahwa peristiwa yang penting ini tidak pernah diperingati secara layak sejak lahirnya Orde Baru. Gara-gara politik anti-Sukarno yang dianut Orde Baru, maka para wartawan Indonesia pun banyak yang takut, atau enggan, untuk menulis soal konferensi besar yang pernah menjadi kebanggaan nasional dan internasional ini. Di samping itu, mungkin tidak banyak lagi bahan atau dokumen tentang KWAA ini yang bisa ditemukan sekarang ini.
Itulah sebabnya, ketika penulis sedang mengetik artikel ini di computer sambil mendengarkan kembali piringan hitam (diproduksi oleh Lokananta, perusahaan Kementerian Penerangan) yang berisi pidato Bung Karno di depan KWAA (tanggal 24 April 1963), maka terbayang kembalilah kebesaran jiwa konferensi itu, dan kemegahan sosok Bung Karno di depan mata para wartawan Asia-Afrika yang menghadiri peristiwa penting itu. (Penjelasan : piringan hitam itu berjudul : Message of H.E. President Soekarno, on the opening ceremony of the First Asian African Journalists Association).
Sungguh, para pembaca yang budiman, mendengarkan kembali pidato Bung Karno di depan sidang pembukaan KWAA itu bisa mengingatkan orang bahwa Bung Karno memang orang besar bangsa. Sayang, bahwa ia telah menjadi korban kejahatan politik para pendiri Orde Baru/Golkar!
Paris, Tue, 17 Apr 2001 20:03:19 +0200
P.S. Penulis adalah salah seorang yang ikut mengumpulkan tanda-tangan di Budapest tahun 1962, dan menjadi anggota Panitia Pusat KWAA di Jakarta.

Prangko Seri : "KONFERENSI WARTAWAN ASIA AFRICA"
Tanggal Penerbitan : 24 April 1963

 

Rabu, 22 April 2015


Tahun 1965 

PEMBRANTASAN PENJAKIT KANKER





Prangko Amal : Seri "PEMBRANTASAN PENJAKIT KANKER"
Tanggal Penerbitan : 17 Juli 1965
Koleksi yang dimiliki : Sampul Hari Pertama
Jumlah Koleksi : 1 buah


Apakah Sinar Sakti itu? Apakah itu semacam "X-Ray" ? Saya tidak begitu paham. Namun yang menjadi catatan di sini bahwa pada saat itu sudah ada istilah penyakit Kanker. Dan Teknologi untuk penyembuhannnya pun tergolong mutakhir.

Rabu, 15 April 2015

TAHUN 1963
HARI NELAJAN NASIONAL






IKAN TONGKOL
Ikan yang berukuran sedang; panjang maksimum sekitar 100 cm FL (fork length), namun umumnya hanya sekitar 60 cm. Punggung berwarna biru gelap metalik, dengan pola coret-coret miring yang rumit mulai dari pertengahan sirip punggung pertama ke belakang; sisi badan dan perut putih keperakan, dengan bercak-bercak khas berwarna gelap di antara sirip dada dan sirip perut, yang tidak selalu ada. Tanpa sisik, kecuali di wilayah corselet dan gurat sisi.[3]
Gigi-gigi kecil dan mengerucut, dalam satu baris. Sisir saring berjumlah 29-34 pada lengkung insang yang pertama. Sirip punggung pertama dengan XI hingga XIV jari-jari keras (duri), terpisahkan dari sirip punggung kedua hanya oleh suatu celah sempit, yang lebih sempit daripada lebar mata. Duri-duri di awal sirip punggung pertama jauh lebih panjang daripada duri-duri di belakangnya, membuat tepi atas sirip depan ini melengkung dalam. Sirip dada pendek, ujungnya tidak mencapai celah di antara kedua sirip punggung. Terdapat dua tonjolan (flaps) di antara kedua sirip perut. Sirip-sirip kecil (finlet) 8-10 buah di belakang sirip punggung kedua, dan 6-8 buah di belakang sirip dubur.
*) Wikipedia

Sampul Peringatan  : "HARI NELAJAN NASIONAL"
Tanggal Penerbitan : 6 APRIL 1963

TAHUN 1999

BATIK INDONESIA

INDONESIAN BATIK




Batik adalah kain yang digambar dengan malam dan menampilkan motif tertentu. Motif dasarnya adalah Parang, Geometris, Banji, Tanaman Merambat, Tanaman Air, Bunga-bungaan atau Fauna di Habitatnya. Kain batik telah lama dikenal di tanah air sebagai kain tradisional dan telah menjadi identitas bangsa. Seiring perkembangan teknologi tekstil, cara pembuatan batik pun dimodernisasi. Namun teknik modern ini hanya menghasilkan kain dengan ornamen atau motf batik dan tidak dapat disebut sebagai batik. Batik sesungguhnya dan paling berharga adalah batik tulis yang dibuat dengan tangan menggunakan canting. Keberadaan batik di Indonesia semakin diteguhkan dengan pencanangannya sebagai pakaian nasional. Menyambut peristiwa tersebut diterbitkan prangko yang menampilkan empat macam batik tulis.

Batik is a kind of cloth painted or drawn with liquid wax by certain motifs. There are seven base motif i.e,  Parang, Geometric, Banji, Creeping Plants, Water Plants, Floral, and Fauna in Their Environments. The cloth has long been known as Indonesian Traditional cloth and has become one of its identity. With the developments in modern technology, the method of batiking has been streamlined. However, the new technique produces a cloth ornamented like batik or batik-modified and can not be called as such. . The true and most valuable batik is written one which is hand-painted using a drawer made of copper called canting (stylus). Indonesia confirms the existence of batik with the declaration of batik as national cloth.  The stamp serries issued to commemorate the date depicts four kinds of batik frm different places.

*) Disadur dari Sampul Hari Pertama  "Batik Indonesia", terbit tanggal 12 Oktober 1999

Prangko : Seri "BATIK INDONESIA"
Tanggal Penerbitan : 12 Oktober 1999
Koleksi yang dimiliki : Sampul Hari Pertama 
Jumlah Koleksi : 1 buah

Senin, 13 April 2015

TAHUN 1998

KEBUDAYAAN INDONESIA

INDONESIAN ART AND CULTURE





Motto "Bhinneka Tunggal Ika" mencerminkan latar belakang etnis dan budaya Indonesia yang beragam. Sebagai wadah dari lebih 100 kelompok etnis, Indonesia memiliki kebudayaan melimpah berupa seni budaya seperti tarian, yang bertalian dengan kehidupan sehari-hari dan ritual masyarakat. Sebagai upaya memperkenalkan kekayaan tersebut kepada dunia luas, tahun 1992 mulai diterbitkan prangko yang menampilkan tarian tradisional. Penerbitan ini dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya dan tahun ini merupakan penerbitan yang terakhir dari seri "Kebudayaan Indonesia". Seri terakhir ini menampilkan lima tarian yaitu Tari Oreng-oreng Gae dari Sulawesi Tenggara, Tari Persembahan dari Bengkulu, Tari Kipas dari Riau, Tari Srimpi dari Yogyakarta dan Tari Pasambahan dari Sumatera Barat.
====================================================
As reflected in the motto "Bhinneka Tunggal Ika" (Unity in Diversity) enshrined on the national coat of arms, Indonesia comprises diverse ethnic and cultural backgrounds. As a melting pot of over 100 distinct ethnic groups, Indonesia is home of abundant traditional dances, some of which related to daily and ritual life of the people. To promote this treasure to the world, beginning in 1992 a stamp series was issued featuring traditional dances. The issuance has been continued in the proceeding years and this year is the last of the row. This time the series features dances from five provinces, namely Oreng-oreng Gae Dance from Southeast Sulawesi , Tribute Dance of Bengkulu, Fan Dance of Riau, Court (Srimpi) of Yogyakarta and Tribute Dance  of West Sumatera.

*) Disadur dari Sampul Hari Pertama  "Kebudayaan Indonesia", terbit tanggal 27 Desember 1998

Prangko Seri "KEBUDAYAAN INDONESIA - INDONESIAN ART AND CULTURE"
Tanggal Penerbitan : 27 DESEMBER 1998

Koleksi yang dimiliki : Sampul Hari Pertama 
Jumlah Koleksi : 1 buah

Minggu, 12 April 2015


Tahun 1998

HARI CINTA PUSPA DAN SATWA NASIONAL

NATIONAL LOVE FLORA & FAUNA DAY



Penerbitan ini merupakan seri terakhir dari enam rangkaian penerbitan prangko "Hari Cinta Puspa dan Satwa" yang dimulai tahun 1993. Seluruh puspa dan satwa yang menjadi identitas 27 provinsi telah hadir dalam prangko. Puspa dan satwa yang tampil pada kesempatan terakhir ini adalah Bunga Ashar (Mirabilis jalapa) dan Gajah (Elephas maximus sumatranus) dari Lampung, Buah Kepel (Stelechocarpus burahol) dan Perkutut (Geopelia Striata) dari Yogyakarta, Bunga Sedap Malam (Polianthes tuberosa) dan Ayam Bekisar (Gallus varius X Gallus domesticus) dari Jawa Timur, Buah Kasturi (Mangifera Casturi) dan Bekantan (Nasalis larvatus) dari Kalimanta Selatan, serta Langusai (Ficus minahasae) dan Tangkasi (Tarsius spectrum) dari Sulawesi Utara.*)
================================================================
This stamp issuance is the last one of the "National Love Flora and Fauna Day" series begun in 1993. All provincial flora and fauna emblems of 27 provinces of Indonesia have now been featured on stamps. The flora and fauna featured on the last series are Four O'clock Flower (Mirabilis jalapa) and Elephant (Elephas maximus sumatranus) from Lampung, Kepel Fruit (Stelechocarpus burahol) and Turtle-dove (Geopelia Striata) from Yogyakarta, Tuberose (Polianthes tuberosa) and Junglefowl (Gallus varius X Gallus domesticus) from East Java, Kasturi Mango (Mangifera Casturi) and Proboscis Monkey (Nasalis larvatus) from South Kalimanta, serta Fig Tree (Ficus minahasae) and Spectral Tarsier (Tarsius spectrum) from North Sulawesi.*)

*) Disadur dari Sampul Hari Pertama  "Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional", terbit tanggal 05 November 1998

Prangko : Seri "HARI CINTA PUSPA DAN SATWA NASIONAL - 1998"
Tanggal Penerbitan : 05 November 1998

Koleksi yang dimiliki : Sampul Hari Pertama 18a
Jumlah Koleksi : 1 buah