Tampilkan postingan dengan label Tahun 1961. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahun 1961. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Maret 2015

TAHUN 1961

BUAH-BUAHAN - HARI SOSIAL KE IV




HARI SOSIAL KE IV - 1961

HARI SOSIAL KE IV - 1961
HARI SOSIAL KE IV - 1961

Sejarah Buah Nanas
Hampir semua orang suka dengan buah nanas karena selain rasanya yang lezat dan mampu diolah menjadi beragam aneka makanan, buah nanas teryata juga mengandung banyak sekali manfaat bagi kesehatan. Dalam Bahasa Inggris buah nanas dikenal sebagai Pineapple. Dinamakan demikian dikarenakan bentuknya yang mengerucut seperti pohon pinus dan kandungan juicenya yang kaya.

Meskipun cukup populer, banyak diantara kita yang tidak mengetahui asal-usul buah ini. Berbicara tentang sejarah buah nanas, banyak para ahli menyakini bahwa tanaman yang satu ini berasal dari Paraguay dan Brasil selatan yang kemudian oleh penduduk lokal dibudidayakan di seluruh Amerika Selatan hingga Kepulauan Karibia. Pada 1493, Christopher Columbus menemukan buah nanas di Karibia Guadalupe. Inilah cikal bakal diperkenalkannya buah nanas ke benua Eropa yang kemudian menyebar ke seluruh dunia saat era kolonialisme berlangsung.

Ketika Columbus memperkenalkan nanas ke Eropa, buah nanas menjadi sangat populer. Selama masa itu, nanas merupakan salah satu makanan mewah yang dianggap sangat eksklusif. Kapal-kapal membawa nanas yang diawetkan dari pulau-pulau Karibia dan dijual dengan harga sangat mahal di Eropa. Buah nanas segar bahkan lebih mahal dan sulit diperoleh karena hanya beberapa kapal cepat yang mampu membawa nanas segar dalam kondisi baik.

Pada periode tahun 1527, bangsa Spanyol memperkenalkan nanas pertama kali ke Hawaii, di Big Island. Kemudian, dari sinilah diyakini buah nanas menyebar ke Asia dan Hindia Barat termasuk juga Indonesia. Saat itu buah nanas hanya mampu tumbuh di wilayah tropis, sehingga butuh waktu dua abad agar para petani Eropa mampu menemukan metode untuk membudidayakan tanaman nanas. Dengan demikian, sampai dengan abad ke-16, nanas tetap barang langka yang sangat eksklusif. Berdasarkan sebuah catatan diketahui bahwa budidaya nanas dimulai di Eropa pada 1720-an. 

Sebelum periode ke 16 ada satu fakta unik terkait buah nanas, yakni dianggap sebagai simbol persahabatan dan juga jimat pembawa keberuntungan. Nanas merupakan simbol negara Jamaika yang digunakan pada tahun 1661. Seringkali pada acara tertentu yang mengharuskan kehadiran nanas sebagai simbol, orang-orang menyewanya dan dikembalikan setelah acara selesai. Hal ini tidak terlepas dari mahalnya harga nanas pada saat itu.

Komersialisasi nanas dalam bentuk kalengan pertama kali dilakukan oleh seorang berkewarganegaraan Inggris bernama Kapten John Kidwell. Usaha ini dimulai sejak tahun 1880 dan menjadi bisnis yang sangat menguntungkan. Namun demikian, pada tahun 1898, Kapten Kidwell terpaksa menutup usahanya dikarenakan pajak yang dikenakan oleh Pemerintah AS untuk industri pengalengan nanas pada saat itu sangat tinggi.

Nah, menarik bukan sejarah buah nanas? Nanas adalah buah yang bebas dari lemak dan kolesterol serta kaya akan vitamin C. Jadi, selama tidak mengalami alergi nanas, jangan ragu untuk mengkonsumsi buah nanas sebagai asupan harian Anda. *)
*) Dari http://manfaatbuahnanas.blogspot.com/


Prangko Amal : Seri "BUAH-BUAHAN" - HARI SOSIAL KE 4
Tanggal Penerbitan : 20 DESEMBER 1961


Minggu, 29 Maret 2015

TAHUN 1961

PERESMIAN PENGGUNAAN GEDUNG KANTORTUKAR POSLAUT :DJAKARTA P.L" DI TANJUNG PRIOK



Sampul Peringatan : Peresmian Penggunaan Gedung Kantortukar Poslaut "Djakarta P.L" Di Tanjung Priok
Tanggal Penerbitan : 14 Desember 1961

Sabtu, 28 Maret 2015

TAHUN 1961

PEMBUKAAN DINAS GIRO & TJEK POS


PEMBUKAAN DINAS GIRO & TJEK POS - 1961
Giro
Giro adalah suatu istilah perbankan untuk suatu cara pembayaran yang hampir merupakan kebalikan dari sistem cek, berupa surat perintah untuk memindahbukukan sejumlah uang dari rekening seseorang kepada rekening lain yang ditunjuk surat tersebut. Suatu cek diberikan kepada pihak penerima pembayaran (payee) yang menyimpannya di bank mereka, sedangkan giro diberikan oleh pihak pembayar (payer) ke banknya, yang selanjutnya akan mentransfer dana kepada bank pihak penerima, langsung ke akun mereka.
Perbedaan tersebut termasuk jenis perbedaan sistem 'dorong dan tarik' (push and pull). Suatu cek adalah transaksi 'tarik': menunjukkan cek akan menyebabkan bank penerima pembayaran mencari dana ke bank sang pembayar yang jika tersedia akan menarik uang tersebut. Jika tidak tersedia, cek akan "terpental" dan dikembalikan dengan pesan bahwa dana tak mencukupi. Sebaliknya, giro adalah transaksi 'dorong': pembayar memerintahkan banknya untuk mengambil dana dari akun yang ada dan mengirimkannya ke bank penerima pembayaran sehingga penerima pembayaran dapat mengambil uang tersebut. Karenanya, suatu giro tidak dapat "terpental", karena bank hanya akan memproses perintah jika pihak pembayar memiliki daya yang cukup untuk melakukan pembayaran tersebut. Namun ini juga berarti pihak pembayar tidak mendapatkan keuntungan dari "float".

Sejarah dan Konsepsi
Surat Giro atau Postgiro memiliki sejarah yang panjang dan membanggakan dalam sejarah finansial Eropa. Konsep dasar adalah sistem perbankan tidak berdasarkan cek, tetapi dengan transfer langsung di antara rekening. Jika kantor akuntan di sentralisasi, maka transfer di antara akun akan terjadi secara simultan. Uang bisa dibayarkan atau ditarik dari sistem dari kantor pos manapun, dan nantinya koneksi ke sistem perbankan komersial dibuat, seringnya dengan keyakinan dari bank lokal membuat akun sendiri di Postgiro.
Pada pertengahan abad 20, kebanyakan negara di benua Eropa memiliki layanan pos giro. Sistem posgiro pertama ada di Austria di awal abad 19. Pada saat Posgiro Inggris diadakan, Posgiro Belanda telah distabilkan dengan baik dengan setiap orang dewasa memiliki akun posgiro dengan operasi posgiro yng besar dan digunakan dengan baik di negara Eropa lain kebanyakan dan Skandinavia.
Istilah "bank" tidak digunakan pada saat itu juga untuk mendeskripsikan layanan tersebut. Instrumen pembayaran utama bank didasarkan dengan cek dimana memiliki perbedaan keseluruhan dengan model remiten "giro".
Dalam model perbankan, cek ditulis oleh remiten dan diserahkan atau dipos kepada pihak penerima pembayaran, yang nantinya akan mengunjungi bank atau pos ceknya ke bank. Cek tersebut harus di clearing, proses kompleks dimana cek disortir menjadi satu, dipos ke lokasi pusat clearing, disortir lagi, dan dipos balik ke cabang pembayaran dimana cek tersebut akan dicek ulang terakhir kalinya dan akhirnya akan dibayarkan.
Dalam model Pos Giro, Transfer Giro dikirim melalui pos surat oleh remiter ke pusat Giro. Dalam pengembaliannya, transfer tersebut dicek dan akun transfer mengambil tempat. Jika transfer berjalan lancar, dokumen transfer dikirim ke penerima, bersama pernyataan pemutakhiran dari akun yang dikreditkan. Remitter juga dikirimkan pernyataan pemutakhiran. Pada kasus dimana fasilitas publik yang menerima ratusan trnasaksi per hari, pernyataan akan dikirim secara elektronik dan menggunakan angka rujukan yang unik untuk mengenali remiten untuk keperluan rekonsiliasi.
Maraknya clearing cek elektronik (dan kartu debet yang dirujuk sebagai alat pembayaran) membuat perbedaan ini menjadi tidak begitu penting seperti dulu. Contohnya di beberapa toko di Amerika Serikat.*)
*)Sumber: Wikipedia
Prangko : Pembukaan Dinas Giro dan Tjek Pos
Tanggal Penerbitan : 23 November 1961
Koleksi yang dimiliki : Sampul Hari Pertama

Jumlah Koleksi : 1 buah

Sabtu, 21 Februari 2015

TAHUN 1961

HARI PAHLAWAN KE XVI








Sampul Peringatan : Hari Pahlawan ke XVI
Tanggal Penerbitan : 10 Nopember 1961

Jumat, 20 Februari 2015

TAHUN 1961 

10 NOVEMBER - HARI PAHLAWAN - SERI PAHLAWAN III



HARI PAHLAWAN - 10 NOVEMBER 1961

HARI PAHLAWAN - 10 NOVEMBER 1961


KI HADJAR DEWANTARA

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYDSuwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Yogyakarta2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.
Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Kadipaten Pakualaman, putra dari GPH Soerjaningrat, dan cucu dari Pakualam III. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS(Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, SediotomoMidden JavaDe ExpresOetoesan HindiaKaoem MoedaTjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.
Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.
Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.
Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga". Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik een Nederlander was"), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut.
"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlanderdiharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".

Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun benar ia yang menulis, mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian.
Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai "Tiga Serangkai". Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun.
Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal
Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia).
Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India,Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri. 
Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung
dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk 
mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922:
Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. 
Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti 
namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan 
di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, 
baik secara fisik maupun jiwa.
Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan 
pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi 
ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. 
("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan").
Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih 
di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

*) Dari Wikipedia

Prangko seri "Pahlawan III"
Terbit pada tanggal : 10 November 1961

Rabu, 18 Februari 2015



Tahun 1961

Peresmian Gedung Baru Kantor Pos Solo

Inauguration of New Building Post Office Solo



PERESMIAN GEDUNG BARU KANTOR POS SOLO 1961

Solo atau Surakarta, sebuah kota yang terletak di Jawa Tengah. Dengan letak geografis di antara kota-kota besar di pulau jawa, Semarang, Jogja dan Surabaya menjadikan kota Solo merupakan tempat yang sangat strategis untuk berbagai hal.  Namun tidak bisa dikesampingkan pula peran kota-kota kecil di sekitarnya yang akan menambah daya tarik kota ini seperti Kartosura, Boyolali, Klaten, Sragen, Matesih, Purwodadi dan lain-lain.
Sejarah kota Solo tidak bisa dilepaskan dari sejarah kelam bangsa Indonesia yang dijajah oleh Belanda. Berawal dari peperangan Pakubuwana II yang didukung oleh VOC dengan Sunan Kuning (Raden Mas Garendi). Akibat peperangan ini disebutkan  oleh beberapa sumber bahwa tembok keraton Karrosuro setinggi 4 meter saat itu roboh dan bangunan keraton mengalami kerusakan yang cukup parah. Namun lagi-lagi berkat bantuan VOC Pakubuwono II yang tadinya melarikan diri ke Ponorogo bisa kembali masuk keraton. 
Merasa bangunan dalam keraton sudah mengalami kerusakan yang parah dan bisa menghilangkan pamor serta wibawa dan kesaktian penghuninya, maka Pakubuwana II memerintahkan beberapa orang petinggi keraton untuk mencari lokasi baru yang akan dijadikan sebagai pusat kerajaan nantinya. Setelah melakukan pengembaraan ke berbagai tempat, para utusan tersebut memberikan masukan sebuah tempat di Desa Sala untuk diajukan kepada Sunan PB II sebagai pusat keraton Mataram yang baru. Desa Sala yang letaknya kurang lebih 10 Km sebelah timur kota Kartasuro.


Solo or Surakarta, a city located in Central Java. With its geographical location between major cities in Java, Semarang, Yogyakarta and Surabaya Solo makes a very strategic place for a variety of things. But can not be ruled out also the role of small towns in the vicinity that will add to the appeal of this city as Kartosura, Boyolali, Klaten, Sragen, Matesih, Purwodadi and others.

History of Solo can not be separated from the dark history of the Indonesian nation that was colonized by the Dutch. Starting from Pakubuwana II battle supported by the VOC with Sunan Kuning (Raden Mas Garendi). As a result of this battle is mentioned by several sources that the palace walls Kartosuro 4 meter when it collapsed and the building of the palace suffered significant damage. But again, thanks to the help of VOCs, Pakubuwono II who had fled to Ponorogo can re-enter the palace.

Feeling the buildings in the palace had suffered severe damage and can eliminate the prestige and authority and supernatural inhabitants, then Pakubuwana II ordered some palace officials to look for a new location that will serve as the center of the kingdom later. After a wander to various places, the palace officials advise a place in the village of Sala for submission to the Sunan PB II as the new center of Mataram palace. Sala village located approximately 10 km east of the city Kartasuro.

Sampul Peringatan "Peresmian Gedung Baru Kantor Pos Solo"
Tanggal Penerbitan : 24 Oktober 1961
Koleksi yang dimiliki : Sampul Hari Pertama/Sampul Peringatan
Jumlah Koleksi : 2 buah 

TAHUN 1961

HARI ANGKATAN PERANG

HARI ANGKATAN PERANG

HARI ANGKATAN PERANG
Prangko Peringatan Hari Angkatan Perang
Tanggal Penerbitan : 05 Oktober 1961

Senin, 16 Februari 2015

TAHUN 1961

2 WINDU PTT


2 WINDU PTT
2 WINDU PTT

2 WINDU PTT


Sampul Peringatan "2 Windu PTT"
Tanggal Penerbitan : 26 September 1961

Minggu, 15 Februari 2015

TAHUN 1961

PON V


PON V

PON V

PON V

PON V


Pekan Olah Raga Nasional ke V diselenggarakan di Bandung Jawa Barat pada tanggal 30 September - 8 Oktober 1961. Ada20 cabang Olahraga yang dipertandingkan dan diperlombakan yaitu:
1. Anggar                                                                 11. Polo Air
2. Angkat Besi                                                         12. Loncat Indah
3. Atletik                                                                  13. Sepak Bola
4. Balap Sepeda                                                       14. Tenis
5. Bola Basket                                                         15. Tenis Meja
6. Bulu Tangkis                                                       16. Menembak
7. Gulat                                                                    17. Tinju
8. Hockey                                                                18. Volley
9. Panahan                                                               19. Yudo
10. Renang                                                              20. Pencak Silat

Posisi 3 besar perolehan Medali diraih oleh:
1. Jawa Barat
2. DKI Jakarta
3. Jawa Timur

Seri : Sampul Peringatan PON V
Tanggal Penerbitan : 23 September 1961
Koleksi yang dimiliki : Sampul Hari Pertama

Jumlah Koleksi : 1 buah

Sabtu, 14 Februari 2015

TAHUN 1961

SENSUS PENDUDUK 1961


Sensus Penduduk tahun 1961

Sensus Penduduk tahun 1961
Sensus Penduduk tahun 1961


Prangko Seri "Sensus Penduduk"
Tanggal Penerbitan : 15 September 1961 

Jumat, 13 Februari 2015

TAHUN 1961

PERESMIAN GEDUNG BARU KANTOR POS MAKASSAR




Sampul Peringatan : Peresmian Gedung Baru Kantor Pos Makassar
Tanggal Penerbitan : 5 September 1961

Kamis, 12 Februari 2015

TAHUN 1961

SAMPUL PERINGATAN : LUSTRUM I MADJELIS ILMU PENGETAHUAN INDONESIA TAHUN 1961



Sampul Peringatan : Lustrum I Madjelis Ilmu Pengetahuan Indonesia Tahun 1961
Tanggal Penerbitan : 02 September 1961

Rabu, 11 Februari 2015

TAHUN 1961 

SAMPUL PERINGATAN : PEKAN PAMERAN PHILATELI






Sampul Peringatan : Pekan Pameran Philateli
Tanggal Penerbitan : 17 Agustus 1961; 18 Agustus 1961; 19 Agustus 1961; 20 Agustus 1961; 21 Agustus 1961

Selasa, 10 Februari 2015

TAHUN 1961

PRANGKO PERINGATAN SERI "PAHLAWAN I"HARI PROKLAMASI KE 16 REP. INDONESIA




PANGERAN DIPONEGORO
Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, ia memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.
Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran GPH Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah gua yang bernama Gua Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Gua Selarong. Perjuangan Pangeran Diponegoro ini didukung oleh Sunan Pakubuwana VI dan Raden Tumenggung Prawiradigdaya Bupati Gagatan.
Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden.
Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro, hingga akhirnya ditangkap pada 1830.
Perang Diponegoro merupakan perang terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infanteri, kavaleri, dan artileri—yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal—di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur logistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan berkencamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.
Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerja sama dengan alam sebagai “senjata” tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan berbagai usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malariadisentri, dan sebagainya merupakan “musuh yang tak tampak” melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang di bawah komando pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.
Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu, ketika suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka (open warfare), maupun metode perang gerilya (guerilla warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan. Ini bukan sebuah perang suku, melainkan suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktikkan. Perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat saraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran; dan kegiatan telik sandi (spionase) dengan kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.
Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.
Perang melawan penjajah lalu dilanjutkan oleh para putra Pangeran Diponegoro: Ki Sodewa atau Bagus Singlon, Dipaningrat, Dipanegara Anom, Pangeran Joned yang terus-menerus melakukan perlawanan walaupun harus berakhir tragis. Empat putra Pangeran Diponegoro dibuang ke Ambon, sementara Pangeran Joned terbunuh dalam peperangan, begitu juga Ki Sodewa.
Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban di pihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa. Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Ngayogyakarta menyusut separuhnya. Mengingat bagi sebagian kalangan dalam Kraton Ngayogyakarta, Pangeran Diponegoro dianggap pemberontak, sehingga konon anak cucunya tidak diperbolehkan lagi masuk ke Kraton, sampai kemudian Sri Sultan Hamengkubuwana IX memberi amnesti bagi keturunan Diponegoro, dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai Diponegoro kala itu. Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk Kraton, terutama untuk mengurus silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir.
Prangko Peringatan Seri "PAHLAWAN I"
Tanggal Penerbitan : 17 Agustus 1961 
Koleksi yang dimiliki : Sampul Hari Pertama