Kamis, 24 Desember 2015

TAHUN 1971 

VISIT ASEAN LANDS 1971

VISIT ASEAN LANDS - 1971

VISIT ASEAN LANDS - 1971

VISIT ASEAN LANDS - 1971
Negara-negara anggota ASEAN jang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura dan Muangthai telah memutuskan untuk melakukan usaha-usaha bersama dalam kampanje publisitas “VISIT ASEAN YEAR 1971", jang bertudjuan meningkatkan promosi kepariwisataan di masing-masing negara anggota. Salah satu tjara untuk turut serta dalam projek ini ialah dengan menerbitkan prangko-prangko istimewa dari Rp. 20,- Rp. 50,- dan Rp. 75,-  dengan thema penerbitan :  “VISIT ASEAN LANDS 1971”
Tahun 1971 merupakan titik tolak dari kegiatan-kegiatan bersama dan terus-menerus negara-negara anggota ASEAN dalam bidang Pariwisata.
I. Prangko Rp. 20,- :
Prangko ini menggambarkan seorang wanita jang sedang membatik.
Industri batik memegang peranan jang sangat penting dalam kegiatan ekspor negara dan telah berhasll mentjiptakan polanja tersendiri didunia perdagangan, meskipun beberapa negara tetangga anggota ASEAN seperti Malaysia, Singapura dan Muang Thai merupakan saingan utama dalam pasaran batik.
Seni batik jang berasal dari Turki dan Mesir dan mungkin pula dari Persia pertama-tama diperkenalkan di Indonesia oleh bangsa Hindu dan sedjak itu seni batik telah berkembang dengan pesatnja diseluruh keradjaan2 di Djawa dan Bali. Pada mulanja seni ini sangat digemari oleh wanita-wmita dilingkungan keraton Sultan, tapi lambat laun berkembang dengan pesat mendjadi industri rakjat. Meskipun diwaktu kemudian tjara pembatikan itu telah dapat diperbaiki dengan penggunaan alat tjap dari tembaga, namun hingga kini batik tulis lebih artistik dan lebih mahal harganja, mengingat seni batik  tulis memerlukan ketjakapan dan bakat dari para senimannja.
Motif batik adalah bermatjam-matjam menurut selera dan karakteristik berbagai suku di Djawa dan Madura, seperti suku-suku Djawa, Sunda, Madura, Tjirebon dlsb. dan bahkan pula orang-orang Tjina. Memenuhi selera penggemar batik modern, industri batik di Indonesia telah berkembang lagi dan menjesuaikan tjoraknja setjara modern dengan kombinasi warna jang menarik, seperti warna-warna biru, hidjau muda, djingga dan sebagainja. Bermatjam-matjam barang dapat dibuat dari batik seperti kemedja, rok, tas, sampul album, sepatu, topi dan pitji, dan lain sebagainja.

II. Prangko Rp. 50,- :
Djawa Barat meliputi daerah seluas hampir 17.009 mil persegi, atau lebih sedikit dari sepertiga luas seluruh pulau Djawa dan Madura. Pegunungan jang membudjur di Sumatera menjeberangi Selat Sunda dan membentang dibagian selatan Djawa Barat, membentuk daerah pegunungan Parahyangan, tempat asal suku-bangsa Sunda.
Gadis Sunda jang dikenal dengan sebutan “Modjang Parahyangan" sangat populer, baik dikalangan bangsa sendiri
maupun orang asing karena ketjantikan dan keramahannja. Parahyangan tanpa modjangnja bak nasi tanpa garam atau laki-laki tanpa kumis.
Prangko ini menggambarkan seorang modjang sedang memainkan angklungnja, sebuah alat musik bambu, jang sekarang ini dapat disesuaikan dengzn baik untuk memainkan irama musik-musik modern.
Panorama Parhyangan, gunung-gunungnja jang hidjau, lebih-lebih kawah Tangkubanprahu jang mendjadi latar belakang gambar prangko ini, perkebunan tehnja, gadis pemetik the, penuai-penuai padi, semua ini telah mendjadi sumber inspirasi bagi para penjair dan penjanji dalam mengarang sjair dan lagunja. Pertundjukan Wajang Golek jang tradisionil itu selalu menarik perhatian, baik dikalangan bangsa sendiri maupun orang asing. Kota Bandung jang biasa didjukuki “Paris of Java" terletak di daerah Djawa Barat ini. Kota jang dikelilingi pegunungan ini selalu hidjau sepandjang tahun dan hawanja sedjuk.

III. Prangko Rp. 75,- :
Minangkabau adalah sebuah wilajah budaja jang membudjur dipantai barat Sumatera Tengah, Bukit Barisan jang membudjur dari utara ke selatan pulau tersebut melintasi Minangkabau dan mendjadikannja suatu daerah pegunungan jang selalu hidjau. Pantai-pantainja indah dan alamnja sungguh-sungguh permai. Danau-danaaunja baik sekali untuk tempat bermain ski air dan berenang. Patjuan kuda tanpa pelana, buru babi, balap sapi, silat, semua ini merupakan atraksi tradisionil jang menarik hati.
Dewasa ini orang tidak akan menemukan di Indonesia suatu masjarakat dengan sistim “matriarchat" ketjuali di Minangkabau. Tata hidup masjarakat ini dengan sifatnja jang tenteram dan damai, melahirkan suatu kebudajaan jang unik dan putra jang dinamis. Hal ini tetap merupakan suatu misteri.
Prangko ini menggambarkan sepasang pengantin baru dengan dua gadis pengiringnja. Kedua mempelai tersebut memakai pakaian pengantin dengan segala perhiasannja. Upatjara perkawinannja sendiri memberikan kesan jang mendalam
kepada para penonton jang menjaksikannja. Seseorang jang berkundjung ke daerah ini akan mendjumpai bangunan dengan tjorak arsitektur jang chas dakam bentuk rumah keluarga besar atau jang lazim disebut “Rumah Adat" beserta lumbun padinja. Dekorasi bagian luarnja sungguh menakdjubkan dan konstruksi bangunannja kuat dan kekar. Bentuk atapnja sangat unik dan menarik perhatian. Rumah Adat merupakan simbul bagi masjarakat Minangkabau.
*)Dari pengumuman Filateli

Prangko Istimewa Seri : Pariwisata 1971
Tanggal Penerbitan : 26 Mei 1971


Sabtu, 12 Desember 2015

TAHUN 1970

TAHUN PENDIDIKAN INTERNASIONAL - 1970


TAHUN PENDIDIKAN INTERNASIONAL - 1970

TAHUN PENDIDIKAN INTERNASIONAL - 1970

TAHUN PENDIDIKAN INTERNASIONAL - 1970
Dalam sidang plenonja jang ke-1745 pada tanggal 17 Desember 1968, Sidang Umum PBB telah menerima resolusi 2412 (XXIII) jang menetapkan dengan resmi tahun 1970 sebagai Tahun Pendidikan Internasional (TPI).
Sebagai salah satu usaha untuk menandai dan mempopulerkan peristiwa tersebut, Direktorat Djenderal Pos & Telekomunikasi akan menerbitkan prangko-prangko istimewa dengan harga Rp 50,- dan Rp 25,- pada tanggal 16 Nopember 1970. Kedua buah prangko   tersebut memuat gambar Iambang dunia untuk Tahun Pendidikan Internasional 1970, jang telah ditjiptakan oleh Victor Vasarely, seorang artist Perantjis kelahiran Hunggaria. Gambar  jang menundjukkan komposisi lingkaran2 memusat adalah suatu lukisan abstrak dari kepala   Manusia jang diterangi dengan Ilmu pengetahuan dimulai dari sebuah pusat jang terdapat di dahi. Selain itu poda prangko dengan harga Rp 25.- terlukis pula sebuah gambar dasar londjong jang   melukiskan statistik dalam berbagai  bidang pendidikan.
Tujuan pokok daripada TPI ialah untuk memberikan napas baru dalam bidang  pendidikan. Pendidikan tidak lagi dianggap sebagai suatu persiapan untuk hidup melainkan sebagai suatu dimensi atau bagian daripada hidup, jang mempunjai tjiri-tjiri bcrkemauan    menuntut ilmu dan menelaah ide2 terus-menerus. Sistim pcndidikan jang tradisionil jang dala banjak hal masih didasarkan kepada metode abad ke-19 sudah harus ditinggalkan dan konsep  baru jang diintegrasikan dengan kehidupan haruslah ditjiptakan. Pendidikan menurut  pengertian konsep baru ini adalah proses jang berlangsung terus-menerus sepandjang hajat seseorang.   Sistim pendidikan dewasa ini  terutama bagi  anak2  dan  para pemuda jang kelak sebagian daripada hidup kedewasaannja akan didjalani pada abad ke-21, haruslah dirombak seluruhnja baik mengenai isi maupun metodenja.
Untuk maksud itu haruslah ditingkatkan usaha-usaha bersama oleh negara2 anggota PBB dan masjarakat internasional  umumnja kearah empat tudjuan pokok, jakni:
  1. menginventarisasi situasi pendidikan sekarang ini diseluruh dunia ;
  2. memusatkan perhatian pada sedjumlah kebutuhan2 pokok baik untuk perluasan maupun untuk perbaikan pendidikan;
  3. menjediakan dana-dana jang lebih besar bagi kepentingan_pendidikan;
  4. mempererat kerdjasama internasional dalam bidang pendidikan.
Pilihan tahun 1970 sebagai TPI adalah benar dan tepat, mengingat bahwa:
  1. 1970 adalah tahun transisi antara berachirnja masa pembangunan sepuluh tahun pertama dan permulaan masa pembangunan Sepuluh tahun kedua daripada PBB.
  2. Dunia sedang menghadapi krisis dalam bidang pendidikan.
TPI adalah sama pentingnja baik bagi negara2 jang madju maupun negara2 jang sedang berkembang, walaupun tidak dapat dihindarkan bahwa titik berat daripada pcndidikan di tiap negara adalah berbeda-beda sesuai dengan masalah­masalah chusus jang dihadapinja.

TPI bukanlah peristiwa tersendiri jang terpisah, suatu perajaan belaka tanpa kelandjutan melainkan merupakan suatu saat untuk menilai usaha-usaha jang telah lalu dan jang lebih penting lagi ialah sebagai titik tolak bagi usaha pembaharuan dalam bidang pendidikan demi berhasilnja pembangunan dalam bidang ekonomi, sosial dan budaja.

*) Dari Pengumumman Filateli

Perangko Seri : TAHUN PENDIDIKAN INTERNASIONAL - 1970
Tanggal Penerbitan : 16 November 1970

Minggu, 06 Desember 2015

TAHUN 1966 

REPTILE




Prangko seri Reptile
Tanggal Penerbitan : 20 Desember 1966

Jumat, 20 November 2015

TAHUN 1980

SPICE RACE

SPICE RACE

SPICE RACE
Prangko Seri : Spice Race
Tanggal Penerbitan : 12 Maret 1980

Rabu, 11 November 2015

TAHUN 1976

KEBUDAYAAN INDONESIA KE V

KEBUDAYAAN INDONESIA KE V - 1976

KEBUDAYAAN INDONESIA KE V - 1976
Prangko Seri : Kebudayaan Indonesia ke V
Tanggal Penerbitan : 01 November 1976

Minggu, 01 November 2015

TAHUN 1978

KONGGRES GURU SEDUNIA DI JAKARTA


KONGGRES GURU SEDUNIA DI JAKARTA

KONGGRES GURU SEDUNIA DI JAKARTA
Persatuan Guru Republik Indonesia (disingkat PGRI) adalah organisasi di Indonesia yang anggotanya berprofesi sebagai guru. Organisasi ini didirikan dengan semangat perjuangan para guru pribumi pada zaman Belanda, pada tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).
SEJARAH BERDIRINYA PGRI
Pada awalnya organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri pada tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).
Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan penilik sekolah. Dengan latar pendidikan yang berbeda-beda, mereka umumnya bertugas di sekolah desa dan sekolah rakyat angka dua.
Tidak mudah bagi PGHB memperjuangkan nasib para anggotanya yang memiliki pangkat, status sosial dan latar belakang pendidikan yang berbeda. Sejalan dengan keadaan itu, di samping PGHB berkembang pula organisasi guru baru antara lain Persatuan Guru Bantu (PGB), Perserikatan Guru Desa (PGD), Persatuan GuruAmbachtsschool (PGAS), Perserikatan Normaalschool (PNS), Hogere Kweekschool Bond (HKSB), disamping organisasi guru yang bercorak keagamaan, kebangsaan atau lainnya seperti Christelijke Onderwijs Vereneging (COV), Katolieke Onderwijsbond (KOB), Vereneging Van Muloleerkrachten (VVM), dan Nederlands Indische Onderwijs Genootschap (NIOG) yang beranggotakan semua guru tanpa membedakan golongan agama.
Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi terhadap pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah kepala HIS yang dulu selalu dijabat oleh orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia. Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kemerdekaan. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka”.
Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan nama ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia.
Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.
Semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24-25 November 1945 di Surakarta. Melalui kongres ini segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan guru yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 - seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia - Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan.
Dengan semangat pekik “merdeka” bertalu-talu, di tengah bau mesiu pemboman oleh tentara Inggris atas studio RRI Surakarta, mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan:
  1. Mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia.
  2. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan.
  3. Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya.
Sejak Kongres Guru Indonesia itu, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Dari Wikipedia

Prangko Seri : Konggres Guru Sedunia di Jakarta
Tanggal Penerbitan 01 Agustus 1978

Jumat, 30 Oktober 2015

TAHUN 1978

WAYANG

WAYANG - 1978
Prangko Seri : Wayang
Tanggal Penerbitan : 22 Juli 1978

TAHUN 1969 

SATELIT KOMUNIKASI

Satelit Komunikasi - Setasiun Bumi Djatiluhur



Berdirinya INTELSAT (International Telecomunication Satellite Corporation) pada tanggal 20 Agustus 1964, merupakan dimulainya dunia telekomunikasi satelit yang memiliki kemampuan untuk melakukan telekomunikasi internasional. ”Early Bird” merupakan satelit pertama INTELSAT yang diluncurkan pada tahun 1965. Maka pemerintah Indonesia telah melakukan penandatanganan perjanjian pembangunan Stasiun Bumi di Indonesia pada tanggal 9 Juni 1967, dimana Stasiun Bumi ini dapat dioperasikan dengan sistem International Telecomunication Satellite Corporation (INTELSAT) untuk penyelenggaraan telekomunikasi internasional secara modern. Dalam perjanjian tersebut telah diatur bahwa stasiun bumi yang dibangun International Telephone and Telegraph Corporation (ITT) sepenuhnya menjadi milik Indonesia. Akan tetapi sebagai kompensasinya, pemerintah Indonesia menyewakan instalansi stasiun bumi selama 20 tahun kepada ITT untuk menyelenggarakan komunikasi internasional untuk konsumen Indonesia, selain itu pemerintah Indonesia juga membebaskan pajak pembayaran selama 20 tahun. Stasiun Bumi Jatiluhur ditetapkan sebagai tempat yang ideal untuk menempatkan instalansi Stasiun Bumi Indonesia dengan dilihat dari letak geografisnya, Stasiun Bumi Jatiluhur tterletak pada 
a. LATITUDE : 6,5 DERAJAT s 
b. LONGITUDE : 107,4 DEG E 
c. ALTITUDE : 139 M ASL 
Jatiluhur ditetapkan sebagai tempat yang ideal untuk menempatkan instalansi stasiun bumi Indonesia yang pertama. Pemilihan Jatiluhur untuk pembangunan stasiun bumi didasarkan pada alasan-alasan sebagai berikut; a. Menghindari Interference (Radio Broadcast, Radio Komunikasi, Stasiun Televisi, Peralatan Industri, dan lain-lain) b. Dekat dengan sumber listrik (PLTA Jatiluhur) c. Jalur terrestrial strategis (Cimumput) d. Jauh dari pemukiman (Radiasi) e. Jauh dari kawasan Industri(Debu) f. Tidak rawan gempa Akan tetapi ada kekurangan dari pemilihan tempat tersebut yaitu petir dan tiupan angin yang besar sehingga memerlukan proteksi dengan penangkal petir, arrester, sistem grounding. Selanjutnya pada tanggal 29 September 1969 pembangunan Stasiun Bumi Jatiluhur diresmikan oleh Presiden Soeharto sekaligus menerima instalansi modern tersebut sebagai asset Negara. Pada peresmian tersebut juga ditandatangani perjanjian pemberian hak kepada ITT untuk menyelenggarakan telekomunikasi internasional via satelit selama 2 tahun. Pada awalnya Stasiun Bumi Jatiluhur hanya memiliki satu antenna (JAH-1A) yang berdiameter 27,5 meter. Seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam bidang telekomunikasi, maka Stasiun Bumi Jatiluhur membangun beberapa antenna baru yaitu JAH-2A, JAH-3A, JAH-4A, JAH-5A, JAH-6A, dan SBK. Untuk lebih jelasnya keterangan mengenai antennaantenna tersebut diatas dapat dilihat pada lampiran.*)
*) http://elib.unikom.ac.id/


Satelit Komunikasi
Tanggal Penerbitan : 29 September 1969

Kamis, 29 Oktober 2015

TAHUN 1968

OLIMPIADE MEXICO



OLIMPIADE MEXICO
Prangko Seri: Olimpeade Mexico
Tanggal Penerbitan : 12 Oktober 1968

TAHUN 1978 

CEGAH PENYAKIT DARAH TINGGI

CEGAH PENYAKIT DARAH TINGGI - 1978
Perangko Seri : Cegah Penyakit Darah Tinggi
Tanggal Penerbitan : 17 Juni 1978

Rabu, 28 Oktober 2015

TAHUN 1978

WORLD CUP



Prangko Seri : World Cup
Tanggal Penerbitan : 01 Juni 1978

Selasa, 27 Oktober 2015

TAHUN 1978

ORGANISASI PEMBEBASAN PALESTINA


1978 - ORGANISASI PEMBEBASAN PALESTINA

1978 - ORGANISASI PEMBEBASAN PALESTINA
Prangko Seri : Organisasi Pembebasan Palestina
Tanggal Penerbitan : 15 Mei 1978

Senin, 26 Oktober 2015

TAHUN 1978

PENINGKATAN PENGGUNAAN AIR SUSU IBU




Prangko Peringatan : Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu
Tanggal Penerbitan : 07 April 1978

Minggu, 25 Oktober 2015

TAHUN 1978

KONPERENSI UNDP

KONPERENSI UNDP
KONPERENSI UNDP


KERJASAMA TEHNIK ANTAR NEGARA-NEGARA BERKEMBANG
Bagi Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri, kerja sama teknik merupakan bagian integral dari kebijakan luar negeri. Kerja sama teknik adalah salah satu alat yang mendukung upaya-upaya diplomasi RI di forum bilateral, regional maupun internasional. Seiring dengan meningkatnya kapasitas Indonesia, sejak tahun 1981 Indonesia bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency  (JICA) memberikan bantuan teknik kepada negara-negara berkembang di kawasan Asia, Afrika, Pasifik, bahkan Amerika Latin. Bantuan teknik yang diberikan berupa pelatihan dan pengiriman tenaga ahli. Hingga saat ini ribuan peserta dari banyak negara di dunia telah berkunjung ke Indonesia untuk mengikuti berbagai pelatihan teknik.
Untuk lebih mengembangkan program-program kerja sama teknik tersebut, Kemlu telah membentuk Direktorat Kerja Sama Teknik, dibawah Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, pada tahun 2006. Dalam menjalankan tugasnya, Kemlu senantiasa bekerja sama dengan instansi teknis, LSM dan nara sumber yang kompeten di dalam penyelenggaraan program-program kerja sama tekniknya. Tidak dapat dipungkiri ada pihak-pihak yang skeptis terhadap manfaat bantuan teknik bagi Indonesia, terutama mereka yang mengukur hasilnya dari sesuatu yang “tangible” dan dapat dirasakan serta merta, padahal dampak dari kerja sama teknik bisa saja “intangible”. Pada dasarnya kerja sama teknik adalah proses panjang yang dampaknya baru dapat dirasakan di masa mendatang.
I. Pembentukan
Perkembangan kerja sama teknik Indonesia tidak dapat dilepaskan dari upaya-upaya PBB untuk membantu negara-negara berkembang dalam mengatasi ketertinggalannya. Konferensi PBB di Argentina pada tahun 1978 dapat dikatakan bersejarah karena telah melahirkan  Buenos Aires Plan of Action (BAPA) yang menjadi tonggak bagi Kerja sama Teknik antar Negara Berkembang (KTNB). Majelis Umum PBB melalui berbagai resolusi dan keputusannya telah menegaskan arti penting dan validitas KTNB. Semua negara dan badan-badan PBB telah dihimbau untuk melaksanakan rekomendasi-rekomendasi yang ada di BAPA.
KTNB yang pada dasarnya adalah kerja sama teknik Selatan-Selatan, bertujuan untuk mewujudkan kemandirian dan percepatan pembangunan di negara-negara berkembang. Kerja sama teknik juga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kemitraan antar negara. Melalui berbagai kegiatan dalam kerangka kerja sama teknik, diharapkan akan terjadi saling tukar informasi, pengalaman serta menciptakan dasar yang kuat bagi kerja sama antara Indonesia dan negara-negara peserta. Melalui kerja sama Selatan-Selatan ini negara-negara berkembang diharapkan dapat saling membantu dalam pembangunan untuk mengurangi ketergantungan kepada negara maju dan mengejar ketertinggalannya, terutama mengingat adanya kecenderungan jenuhnya bantuan negara-negara maju atau aid fatique kepada negara-negara berkembang.
Indonesia telah banyak belajar dari negara-negara maju.
Seiring dengan meningkatnya kapasitas Indonesia, baik kapasitas SDM maupun kapasitas kelembagaan, sejak tahun 1981 Indonesia bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency  (JICA) mulai memberikan bantuan teknik dalam rangka program KTNB kepada negara-negara berkembang di kawasan Asia, Afrika, Pasifik, bahkan Amerika Latin, dalam bentuk pelatihan dan pengiriman tenaga ahli. Melalui berbagai program tersebut, ribuan peserta telah berkunjung ke Indonesia untuk mengikuti berbagai pelatihan.
Untuk mengembangkan program-program kerja sama teknik tersebut, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia membentuk Direktorat Kerja Sama Teknik pada tahun 2006. 
Direktorat ini bertugas untuk menjalankan program-program di mana negara-negara berkembang lainnya dapat meningkatkan kapasitasnya, mengembangkan kemitraan antar negara, memahami budaya serta tradisi Indonesia dan mempromosikan kapasitas yang dimiliki Indonesia. Selain itu, Direktorat Kerja Sama Teknik juga bertujuan untuk memperkuat dan mengembangkan kerja sama teknik Indonesia dalam kerangka pembangunan dan kerja sama internasional. Direktorat ini bertugas untuk memajukan kerja sama teknik di berbagai bidang, termasuk politik, keamanan, ekonomi, keuangan, pembangunan, sosial budaya, dan iptek.
Berdirinya Direktorat Kerja Sama Teknik telah memberikan ruang yang lebih luas bagi Indonesia untuk memberikan bantuan teknik bagi negara-negara lain, melalui program pelatihan, pengiriman ahli, lokakarya, pemagangan dan pemberian bantuan peralatan yang dibiayai oleh APBN. Berbagai pengalaman Indonesia telah dibagikan kepada negara-negara berkembang lain yang membutuhkan. Topik dan isu-isu baru yang menjadi perhatian dan kepentingan negara-negara berkembang telah pula dituangkan menjadi topik pelatihan seperti perubahan iklim, energi terbarukan, pertanian, kehutanan, penanggulangan bencana, perikanan, kredit mikro, pemberdayaan perempuan serta demokrasi dan good governance. Dengan demikian, Indonesia tidak lagi menjadi Negara penerima semata, namun telah juga menjadi pemberi, atau pada tingkatan tertentu telah menjadi donor atau resource country.
Meningkatnya status Indonesia sebagai negara donor atau lebih tepatnya negara pemberi bantuan pembangunan bukan berarti Indonesia tidak lagi membutuhkan bantuan teknik dari negara maju dan lembaga donor internasional baik dalam bentuk keuangan, tenaga ahli atau narasumber serta peralatan. Sebagai negara berkembang Indonesia tetap memerlukan peningkatan kapasitas untuk mengejar ketertinggalannya dari negara-negara maju. Masa depan kerja sama teknik Indonesia akan sangat tergantung kepada beberapa hal seperti ketersediaan anggaran, SDM dan kelembagaan. Adanya suatu lembaga yang kuat dan berfungsi penuh sebagai pelaksana kerja sama teknik dan didukung oleh anggaran yang kuat pula, akan menjamin “sustainability” program-program kerja sama teknik Indonesia.
II. Kegiatan

Bagi Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri,  kerja sama teknik merupakan bagian integral dari kebijakan luar negerinya, kerja sama teknik menjadi alat diplomasi yang akan mendukung upaya-upaya diplomasi RI di forum bilateral, regional maupun internasional. Namun demikian, Kementerian Luar Negeri tidak mengesampingkan aspek teknisnya yakni alih teknologi, pengetahuan dan pengalaman dalam setiap bantuan tekniknya. Oleh karenanya Kemlu senantiasa bekerja sama dengan instansi teknis, LSM dan nara sumber yang kompeten di dalam penyelenggaraan program-program kerja sama tekniknya. Program-program tersebut, telah memberikan manfaat bagi negara berkembang lain sesuai dengan kebutuhan negara penerima. Tidak dapat dipungkiri ada pihak-pihak yang skeptis terhadap manfaat bantuan teknik bagi Indonesia, terutama mereka yang mengukur hasilnya dari sesuatu yang “tangible” dan dapat dirasakan serta merta, padahal dampak dari kerja sama teknik bisa saja “intangible”. Pada dasarnya kerja sama teknik adalah proses panjang yang dampaknya baru dapat dirasakan di masa mendatang.
Di dalam penentuan program kerja sama teknik, prioritas kebijakan luar negeri RI selalu menjadi rujukan. Selain itu, permintaan khusus dari negara lain juga menjadi dasar perumusan program sepanjang Indonesia memiliki kapasitas. Mengenai pembiayaan, Indonesia memiliki empat skema pembiayaan yaitu melalui rupiah murni (APBN), kerja sama segi tiga dengan donor, pembiayaan bersama antara Indonesia dengan negara penerima, serta  pembiayaan penuh dari negara donor atau organisasi internasional. Dalam konteks nasional, Kemlu dan instansi teknis telah bekerja sama di dalam pembiayaan program. Kerja sama segitiga di dalam penyelenggaraan program peningkatan kapasitas sangat diperlukan dalam rangka menjaga keberlanjutannya (sustainability), karena membutuhkan biaya yang besar, sedangkan Indonesia masih menghadapi kendala anggaran.
Kegiatan Direktorat Kerja sama Teknik menekankan pada program pembangunan mandiri yang berorientasi pada tindakan, pragmatis dan realistis. Sejak pembentukannya Direktorat Kerja sama Teknik bersama dengan Kementerian teknis, organisasi internasional, berbagai institusi dan LSM telah menyelenggarakan berbagai program peningkatan kapasitas untuk negara-negara berkembang di wilayah Asia Pasifik dan Afrika. Beberapa negara yang pernah mengikuti dalam berbagai pelatihan tersebut adalah: Afganistan, Aljazair, Bangladesh, Brunei Darussalam, China, Ethiopia,Filipina, Fiji, India, Iran, Jepang, Kamboja, Kenya, Kiribati, Laos, Madagaskar, Malaysia, Maldives, Myanmar, Mozambik, Namibia, Nepal, Nigeria, Palau, Pakistan, Papua Nugini, Samoa, Solomon Islands, South Africa, South Korea, Sri Lanka, Sudan, Tanzania, Thailand, Timor Leste, Tuvalu, Uganda, Uzbekistan, Vanuatu, Vietnam, dan Zimbabwe.
III. Kegiatan yang telah dilaksanakan Direktorat Kerja Sama Teknik
Program Pelatihan tahun 2007 - 2008
1. Technical Assistance on Bamboo Craftmanship for Republic of Fiji Island, Nausori, May 2007.
2.  Training on Microfinance: Establishing and Managing Micro Finance Institution. Jakarta and Bandung, June 2007. 
3. Skill Training on Wood Carving for the Lao PDR, Viantianne, November - December 2007.
4. Apprenticeship Program for Fijian Farmers in Indonesia. Kuningan, Sukamandi, dan Ciawi, July – September 2007.
5.  Regional Workshop on Enhancing Energy Security through Community Based Micro Hydro Technology. Jakarta, August 2007.
6. International Workshop on Women Empowerment in Economic Development: Promoting Women’s Productivity,  Jakarta, Indonesia, April 2008.
7. Apprenticeship for Gambian Farmers in Indonesia. Jakarta and Kuningan, Indonesia, March-June 2008.
8. International Training Program on Microfinance for Cambodia, Lao PDR, Myanmar, Viet Nam, Papua, New Guinea and Timor Leste, Makassar, Indonesia, April 2008.
9. International Training Workshop on Development of Renewable Energy: Its Role in Rural Socio-Economic Development, Bandung dan Subang, Indonesia, May 2008.
10. International Training Program on Business Incubator to Develop Small and Medium Enterprises for Palestine, Jakarta, Indonesia, July 2008.
11.International Training Program on TV Documentary Program Production, Yogyakarta, Indonesia, July 2008.
12. International Workshop on Enhancing South-South Cooperation Roles on Disaster Risk Management, Jakarta dan Yogyakarta, Indonesia, October 2008.
13. International Training Program on Democratization and Good Governance, Jakarta, Indonesia, October 2008.
14. International Training Program on Microfinance for Asia-Africa Countries: Establishing and Managing Microfinance Institution, Jakarta and Yogyakarta, Indonesia, October 2008.
Program Pelatihan tahun 2009
1. International training Workshop on Women Empowerment on Information Technology, Jakarta, Indonesia, March 2009
2. Apprenticeship Program for Asian and African Farmers, Sukamandi, Kuningan, Lembang, Indonesia, April-June 2009.
3. International Training Workshop on Multi Disaster Risk Management : Focusing on Forest Rehabilitation for Timor Leste, Kupang,Indonesia, May 2009.
4. International Training Program on Intensive Shrimp Culture for South Asian and Southeast Asian Countries, Jepara, Indonesia May 2009.
5. International Training Program on Grouper Nursery for Asia and African Countries, Situbondo, Indonesia, May-June 2009.
6. International Workshop on Disaster Risk Management Focusing on: Strategic Planning in South-South Cooperation, Jakarta, Indonesia, June 2009. 
7. International Training Program on Renewable Energy: Micro Hydro Energy End-Use Productivity for Rural Economic Development for Asia-Pacific Countries, Bandung, Indonesia, June 2009.
8. International Training Program on Fishing Technology and Navigation for Pacific Countries, Semarang, Indonesia, June-July 2009.
9. International Training on Appropriate Mechanization and Water Management for Dry Land Agriculture in African Countries, Bogor, Indonesia, August 2009
10. Apprenticeship Program for Timor Leste in SME’s Development, Bekasi, Indonesia, November-December 2009.
Program Pelatihan tahun 2010
1. Apprenticeship Program for Mozambican Farmers in Indonesia, Jakarta, West Java, Yogyakarta, Indonesia, March-may 2010.
2. International Training Program on Handling Freshwater Pests and Fish Diseases for Asia and Pacific Countries, Sukabumi, Indonesia, April 2010.
3. International Training Workshop on Micro Hydro Development to Empower Rural Economic in Remote Areas, Bandung, Indonesia, May 2010.
4. International Training Program on Poverty Reduction, Yogyakarta, Indonesia, June 2010.
5. International Training Program on Forest Rehabilitation for Timor-Leste, Yogyakarta, Indonesia, July 2010.
6. International Training Program on Local Economic Development Through Business Development Services, Yogyakarta, Indonesia, June 2010.
7. International Training Program on Business Incubator to Develop Small and Medium Enterprises: Focusing on Creative Industry, Bandung, Indonesia, July 2010.
8. International Training Program on TV Documentary Program Production, Yogyakarta Indonesia, July-August 2010.
9. International Workshop on Democratic Leadership for Asian and Pacific Countries: Building the Nation, Reforming the State and Developing the Economy, Bali, Indonesia, October 2010.
Program Pelatihan tahun 2011
1. International Training Program on Post Harvest Technology on Fruits and Vegetables, Lembang, Indonesia, April 2011.
2. Apprenticeship Program for Comorian Farmers in Indonesia, Jakarta, Yogyakarta, Kuningan, Lembang, Indonesia, April-May 2011.
3. Dispatch of Indonesian Agriculture Experts to Tanzania and Gambia, Mkindo Morogoro, Gambia, April-June 2011 & Jenoi, Gambia, September-November 2011.
4. International Training Program on Ecotourism for Pacific Countries, Yogyakarta, Indonesia, April-May 2011. 
5. International Workshop on Appropriate Waste Management Technologies, Denpasar, Indonesia, July 2011. 
6. International Workshop on Multi Disaster Risk Management, Banda Aceh, October 2011.
7. Training Program on Business Incubator Management in Palestine, Ramallah, Palestine, November 2011
8. International Training Program on Public Administrative Reform for Good Governance, Jakarta, Indonesia, September 2011. 
9. International Training Program on Forestry for Timor-Leste, Kupang, Makassar, Indonesia, July, October & November 2011.
10. Dispatch of Indonesia Language Teacher and Angklung Instructor to Timor-Leste, Dili, Timor-Leste, October-November 2011.
Program Pelatihan yang telah dilaksanakan hingga bulan Mei 2012:
1. International Training Program on Post-Harvest Technologies on Fruits and Vegetables, Lembang, 9-18 April
2. Workshop on the Strengthening of Technical Cooperation through Public-Private Partnership, Jakarta, 12 April
3. Dissemination of Implementing Agencies’ Facilities to Development Partners, Yogyakarta, 23-26 April
4. International Training Program on Agriculture Water Management for African Countries” di Jakarta dan Jawa Barat (Cikampek, Purwakarta, Cicalengka, Subang dan Bandung), 8-18 April 2012
5. International Training Program on Freshwater Aquaculture for Asian, Pasific, and African Countries, Jakarta dan Jawa Barat, 6-15 Mei 2012

dari :WWW.KEMLU.GO.ID

Prangko Seri : Konperensi UNDP
Tanggal Penerbitan : 27 Maret 1978