Tampilkan postingan dengan label Tahun 1965. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahun 1965. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Mei 2015

TAHUN 1965

BUNGA - HARI SOSIAL KE VIII









Prangko Amal Seri "Bunga Seri 1"
Tanggal Penerbitan : 20 Desember 1965

Kamis, 30 April 2015

TAHUN 1965

HOTEL-HOTEL PARIWISATA






Hotel Ambarrukmo dibuka pada tahun 1966 sebagai hotel mewah pertama di Yogyakarta. Menurut Director of Sales & Marketing, Fadli Fahmi Ali, hotel tersebut terdiri dari dua sayap. Sayap pertama dengan panorama ke arah Gunung Merapi dibangun tahun 1965. Kemudian disusul sayap kedua yang dibangun pada tahun 1974.
Berbicara sejarah hotel ini tidak bisa lepas dari Sultan Hamengku Buwono V yang membangun Pesanggrahan Ambarrukmo. Pada tahun 1895-1897, bangunan ini direnovasi oleh Sultan Hamengku Buwono VII. Awalnya bangunan tersebut digunakan sebagai tempat menjamu tamu.
Tempat ini kemudian menjadi kediaman Sultan Hamengku Buwono VII saat turun takhta. Area Kebon Raja sampai Gandok Kiwa di masa Sultan Hamengku Buwono VII pun berubah menjadi area Hotel Ambarrukmo pada tahun 1966. Sementara area Balekambang sampai Pendopo tidak beralih fungsi.
Hotel Ambarukmo yang merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Yogyakarta ini diresmikan pengoperasiannya pada era tahun 1960-an saat Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat sebagai Menteri Ekuin.
Hotel ini dulunya dibangun dengan dana pampasan perang Jepang yang merupakan hasil dari perjanjian bilateral antara Indonesia dengan Jepang pada 28 Januari 1958 soal pampasan perang yang disahkan DPRRI pada tanggal 13 Maret 1958 dan diundangkan pada 27 Maret 1958.
Dana pampasan perang Jepang itu juga dipakai untuk membangun Hotel Indonesia di Jakarta, Samudera Beach Hotel di pantai Pelabuhan Ratu, Bali Beach Hotel di pantai Sanur Bali, gedung toserba Sarinah di Jakarta, simpang susun Semanggi di Jakarta, stadion utama Gelora Bung Karno di Senayan Jakarta, Bendungan Jatiluhur di Jawa Barat, Gedung MPR/DPR di Jakarta, Tugu Monas di Jakarta, Masjid Agung Istiqlal di Jakarta, dan beberapa yang lainnya.
Menurut rencana, Pesanggrahan Ambarukmo yang dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono V (1823-1855) dan diselesaikan pada masa Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921), juga akan direvitalisasi dan dioperasikan kembali sebagai gedung pertemuan dan resepsi pernikahan.
Pesanggrahan Ambarukmo ini dulunya merupakan tempat kediaman Sultan Hamengku Buwono VII sesaat setelah beliau turun tahta atau lengser keprabon dan madheg mandhito.
Beliau disebut Sultan Sugih lantaran pada masa pemerintahannya, pemerintah Hindia Belanda banyak mendirikan pabrik gula di Yogyakarta sampai hampir mencapai 20 buah, yang salah satunya masih beroperasi sampai hari ini adalah pabrik gula Madukismo.
Turun tahtanya Sultan Hamengku Buwono VII atau Sultan Sugih yang wafat pada tanggal 30 Desember 1931 ini, sampai hari ini masih menimbulkan tanda tanya seputar peristiwa itu, mengingat tidak banyak Sultan di kerajaan Mataram yang turun tahta sebelum wafat.
Lantaran itulah maka muncul rumor pula bahwa Sultan di era sesudahnya tak akan ada yang wafat di istananya, lantaran Sultan Hamengku Buwono VII sesaat setelah turun tahta pernah berucap sepoto yang bahwasanya, “Tidak akan pernah ada raja yang meninggal di keraton setelah saya”.
Akhirulkalam, umur dan cara kematian serta tempat kematian merupakan rahasia milik Allah SWT semata.
Namun, wafatnya Sultan Hamengku Buwono VIII saat diperjalanan dari Batavia ke Yogyakarta, dan Sultan Hamengku Buwono IX saat berada di Washington DC Amerika Serikat, adakah hubungannya dengan ucapannya Sultan Hamengku Buwono VII tersebut ?.
Prangko Istimewa : Hotel-hotel Pariwisata
Tanggal Penerbitan : 1 Desember 1965

Rabu, 22 April 2015


Tahun 1965 

PEMBRANTASAN PENJAKIT KANKER





Prangko Amal : Seri "PEMBRANTASAN PENJAKIT KANKER"
Tanggal Penerbitan : 17 Juli 1965
Koleksi yang dimiliki : Sampul Hari Pertama
Jumlah Koleksi : 1 buah


Apakah Sinar Sakti itu? Apakah itu semacam "X-Ray" ? Saya tidak begitu paham. Namun yang menjadi catatan di sini bahwa pada saat itu sudah ada istilah penyakit Kanker. Dan Teknologi untuk penyembuhannnya pun tergolong mutakhir.

Minggu, 05 April 2015

TAHUN 1965 

DASAWARSA KONFERENSI ASIA-AFRICA 1955-1965




Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika (disingkat KTT Asia Afrika atau KAA; kadang juga disebut Konferensi Bandung) adalah sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. KAA diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (dahulu Burma), Sri Lanka (dahulu Ceylon), India dan Pakistan dan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung antara 18 April-24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.
Sebanyak 29 negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada saat itu mengirimkan wakilnya. Konferensi ini merefleksikan apa yang mereka pandang sebagai ketidakinginan kekuatan-kekuatan Barat untuk mengkonsultasikan dengan mereka tentang keputusan-keputusan yang memengaruhi Asia pada masa Perang Dingin; kekhawatiran mereka mengenai ketegangan antara Republik Rakyat Tiongkok dan Amerika Serikat; keinginan mereka untuk membentangkan fondasi bagi hubungan yang damai antara Tiongkok dengan mereka dan pihak Barat; penentangan mereka terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Perancis di Afrika Utara dan kekuasaan kolonial perancis di Aljazair; dan keinginan Indonesia untuk mempromosikan hak mereka dalam pertentangan dengan Belanda mengenai Irian Barat.
Sepuluh poin hasil pertemuan ini kemudian tertuang dalam apa yang disebut Dasasila Bandung, yang berisi tentang "pernyataan mengenai dukungan bagi kerusuhan dan kerjasama dunia". Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru.
Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961.
*) Dari Wikipedia


Prangko : Seri "DASAWARSA KAA 1955-1965" 
Tanggal Penerbitan : 18 April 1965

Jumat, 13 Februari 2015

TAHUN 1965

KONFERENSI ISLAM ASIA AFRICA 1965

AFRO-ASIAN ISLAMIC CONFERENCE 1965

 

 


Konferensi Islam Asia Afrika I yang diselenggarakan pada tanggal 6 - 14 Maret Tahun 1965 di gedung Merdeka Bandung. Tujuan dari diselenggarakan konferensi ini adalah untuk menyatukan umat Islam di Asia dan Afrika, untuk melenyapkan penindasan di Asia dan Afrika. Dalam rangka memelihara perdamaian internasional. Konferensi Islam Asia Afrika I ini didahului oleh Konferensi. Pendahuluan yang diselenggarakan pada tanggal 6 - 14 Juni 1964 di Markas Besar Ganefo Senayan Jakarta. Konferensi Pendahuluan Konferensi Islam Asia Afrika ini dihadiri oleh delapan negara, yaitu Indonesia sebagai penyelenggara, Iraq, Nigeria, Pakistan, Philipina, Saudi Arabia, Thailand dan Republik Persatuan Arab.
Tujuan dari Konferensi Pendahuluan ini adalah untuk mempersiapkan penyelenggaraan Konferensi Islam Asia Afrika I. Konferensi Islam Asia Afrika I dihadiri oleh 33 negara peserta dan empat negara peninjau. Konferensi ini membicarakan masalah-masalah yang dihadapi umat Islam di Asia dan Afrika khususnya dan di dunia pada umumnya, serta untuk menyatukan umat Islam di Asia dan Afrika. Konferensi Islam Asia Afrika I telah berhasil memberikan dasar pemikiran bagi kerja sama antar umat Islam dalam memperjuangkan kehidupan dunia yang penuh kedamaian, yaitu dengan dikeluarkannya Deklaras Konferensi Islam Asia Afrika. Di samping itu juga Konferensi Islam Asia Afrika I ini telah berhasil membentuk Organisasi Islam Asia Afrika.

Prangko : Seri "Konferensi Islam Asia Africa - KIAA"
Tanggal Penerbitan : 6 Maret 1965

Kamis, 12 Februari 2015

TAHUN 1965 

BURUNG





Burung sikatan atau juga ada yang menyebut srikatan, merupakan salah satu burung eksotis dengan warna dominan hitam pudar, beralis putih dan memiiliki postur besar seperti burung kutilang. Meski sebenarnya burung sikatan memiliki tubuh yang kecil dan ringan. Tubuhnya yang kecil lebih dipenuhi bulu-bulu yang panjang dan tebal, hal ini membuat tampilannya terkesan terlihat berukuran besar. Pola makan yang tidak biasanya, dan lebih sering memakan serangga-serangga yang terbang seperti kupu, capung, laron, membuatnya lincah dalam menyambar mangsanya
Burung Sikatan, Si Mastering Murai Batu Yang Berumur Pendek
Burung sikatan mirip burung kutilang
Di pulau Jawa, burung ini disebut burung sikatan jawa atau dalam bahasa latinnya Rhipidura Javanica. Burung srikatan memiliki ciri khas ekor yang berbentuk mirip kipas sehingga kadang disebut juga burung kipas. Ketika mereka bernyanyi, ekornya mengepak melebar seperti kipas angin yang besar. Satu lagi yang khas dari burung srikatan adalah kicauannya. Suara kicau sikatan jantan mampu merangsang burung murai batu untuk ikut bernyanyi. Maka tak jarang, banyak peternak menggunakan burung srikatan untuk mastering murai batu kesayangannya dirumah. Suara srikatan memiliki vokal yang kasar crett crettt crettpanjang, namun dia lebih sering berkicau saat terbang.
Burung Sikatan, Si Mastering Murai Batu Yang Berumur Pendek
sarang burung srikatan
Burung sikatan termasuk jenis burung pemalu jika bertemu dengan manusia. Sifatnya yang juga hyperaktif, burung ini langsung terbang menjauh dengan kecepatan terbang yang kencang. Habitat burung sikatan lebih banyak dijumpai di perkebunan rindang sekitar kita. Ditempat tersebut banyak ditemukan sarang sarang burung sikatan dengan bentuk unik menyerupai cawan atau mangkok kecil menempel pada pohon bambu. Namun banyaknya sarang belum tentu juga berbanding lurus dengan tingkat populasinya. Kenapa? Umur burung sikatan yang relative singkat, rasanya iba jika harus mengkoleksi atau memelihara burung itu dirumah. Meski suara kicauannya yang aduhai, tapi demi keberlangsungan ekosistemnya kita patut menjaganya.
*) www.burungkicau.net/
Prangko seri Burung
Tanggal penerbitan : 25 Januari 1965