Jumat, 01 Januari 2016

TAHUN 1971 

FESTIVAL RAMAYANA INTERNASIONAL

FESTIVAL RAMAYANA INTERNASIONAL
Prangko Seri : Festival Ramayana Internasional
Tanggal Penerbitan : 31 Agustus 1971

Kamis, 24 Desember 2015

TAHUN 1971 

VISIT ASEAN LANDS 1971

VISIT ASEAN LANDS - 1971

VISIT ASEAN LANDS - 1971

VISIT ASEAN LANDS - 1971
Negara-negara anggota ASEAN jang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura dan Muangthai telah memutuskan untuk melakukan usaha-usaha bersama dalam kampanje publisitas “VISIT ASEAN YEAR 1971", jang bertudjuan meningkatkan promosi kepariwisataan di masing-masing negara anggota. Salah satu tjara untuk turut serta dalam projek ini ialah dengan menerbitkan prangko-prangko istimewa dari Rp. 20,- Rp. 50,- dan Rp. 75,-  dengan thema penerbitan :  “VISIT ASEAN LANDS 1971”
Tahun 1971 merupakan titik tolak dari kegiatan-kegiatan bersama dan terus-menerus negara-negara anggota ASEAN dalam bidang Pariwisata.
I. Prangko Rp. 20,- :
Prangko ini menggambarkan seorang wanita jang sedang membatik.
Industri batik memegang peranan jang sangat penting dalam kegiatan ekspor negara dan telah berhasll mentjiptakan polanja tersendiri didunia perdagangan, meskipun beberapa negara tetangga anggota ASEAN seperti Malaysia, Singapura dan Muang Thai merupakan saingan utama dalam pasaran batik.
Seni batik jang berasal dari Turki dan Mesir dan mungkin pula dari Persia pertama-tama diperkenalkan di Indonesia oleh bangsa Hindu dan sedjak itu seni batik telah berkembang dengan pesatnja diseluruh keradjaan2 di Djawa dan Bali. Pada mulanja seni ini sangat digemari oleh wanita-wmita dilingkungan keraton Sultan, tapi lambat laun berkembang dengan pesat mendjadi industri rakjat. Meskipun diwaktu kemudian tjara pembatikan itu telah dapat diperbaiki dengan penggunaan alat tjap dari tembaga, namun hingga kini batik tulis lebih artistik dan lebih mahal harganja, mengingat seni batik  tulis memerlukan ketjakapan dan bakat dari para senimannja.
Motif batik adalah bermatjam-matjam menurut selera dan karakteristik berbagai suku di Djawa dan Madura, seperti suku-suku Djawa, Sunda, Madura, Tjirebon dlsb. dan bahkan pula orang-orang Tjina. Memenuhi selera penggemar batik modern, industri batik di Indonesia telah berkembang lagi dan menjesuaikan tjoraknja setjara modern dengan kombinasi warna jang menarik, seperti warna-warna biru, hidjau muda, djingga dan sebagainja. Bermatjam-matjam barang dapat dibuat dari batik seperti kemedja, rok, tas, sampul album, sepatu, topi dan pitji, dan lain sebagainja.

II. Prangko Rp. 50,- :
Djawa Barat meliputi daerah seluas hampir 17.009 mil persegi, atau lebih sedikit dari sepertiga luas seluruh pulau Djawa dan Madura. Pegunungan jang membudjur di Sumatera menjeberangi Selat Sunda dan membentang dibagian selatan Djawa Barat, membentuk daerah pegunungan Parahyangan, tempat asal suku-bangsa Sunda.
Gadis Sunda jang dikenal dengan sebutan “Modjang Parahyangan" sangat populer, baik dikalangan bangsa sendiri
maupun orang asing karena ketjantikan dan keramahannja. Parahyangan tanpa modjangnja bak nasi tanpa garam atau laki-laki tanpa kumis.
Prangko ini menggambarkan seorang modjang sedang memainkan angklungnja, sebuah alat musik bambu, jang sekarang ini dapat disesuaikan dengzn baik untuk memainkan irama musik-musik modern.
Panorama Parhyangan, gunung-gunungnja jang hidjau, lebih-lebih kawah Tangkubanprahu jang mendjadi latar belakang gambar prangko ini, perkebunan tehnja, gadis pemetik the, penuai-penuai padi, semua ini telah mendjadi sumber inspirasi bagi para penjair dan penjanji dalam mengarang sjair dan lagunja. Pertundjukan Wajang Golek jang tradisionil itu selalu menarik perhatian, baik dikalangan bangsa sendiri maupun orang asing. Kota Bandung jang biasa didjukuki “Paris of Java" terletak di daerah Djawa Barat ini. Kota jang dikelilingi pegunungan ini selalu hidjau sepandjang tahun dan hawanja sedjuk.

III. Prangko Rp. 75,- :
Minangkabau adalah sebuah wilajah budaja jang membudjur dipantai barat Sumatera Tengah, Bukit Barisan jang membudjur dari utara ke selatan pulau tersebut melintasi Minangkabau dan mendjadikannja suatu daerah pegunungan jang selalu hidjau. Pantai-pantainja indah dan alamnja sungguh-sungguh permai. Danau-danaaunja baik sekali untuk tempat bermain ski air dan berenang. Patjuan kuda tanpa pelana, buru babi, balap sapi, silat, semua ini merupakan atraksi tradisionil jang menarik hati.
Dewasa ini orang tidak akan menemukan di Indonesia suatu masjarakat dengan sistim “matriarchat" ketjuali di Minangkabau. Tata hidup masjarakat ini dengan sifatnja jang tenteram dan damai, melahirkan suatu kebudajaan jang unik dan putra jang dinamis. Hal ini tetap merupakan suatu misteri.
Prangko ini menggambarkan sepasang pengantin baru dengan dua gadis pengiringnja. Kedua mempelai tersebut memakai pakaian pengantin dengan segala perhiasannja. Upatjara perkawinannja sendiri memberikan kesan jang mendalam
kepada para penonton jang menjaksikannja. Seseorang jang berkundjung ke daerah ini akan mendjumpai bangunan dengan tjorak arsitektur jang chas dakam bentuk rumah keluarga besar atau jang lazim disebut “Rumah Adat" beserta lumbun padinja. Dekorasi bagian luarnja sungguh menakdjubkan dan konstruksi bangunannja kuat dan kekar. Bentuk atapnja sangat unik dan menarik perhatian. Rumah Adat merupakan simbul bagi masjarakat Minangkabau.
*)Dari pengumuman Filateli

Prangko Istimewa Seri : Pariwisata 1971
Tanggal Penerbitan : 26 Mei 1971


Sabtu, 12 Desember 2015

TAHUN 1970

TAHUN PENDIDIKAN INTERNASIONAL - 1970


TAHUN PENDIDIKAN INTERNASIONAL - 1970

TAHUN PENDIDIKAN INTERNASIONAL - 1970

TAHUN PENDIDIKAN INTERNASIONAL - 1970
Dalam sidang plenonja jang ke-1745 pada tanggal 17 Desember 1968, Sidang Umum PBB telah menerima resolusi 2412 (XXIII) jang menetapkan dengan resmi tahun 1970 sebagai Tahun Pendidikan Internasional (TPI).
Sebagai salah satu usaha untuk menandai dan mempopulerkan peristiwa tersebut, Direktorat Djenderal Pos & Telekomunikasi akan menerbitkan prangko-prangko istimewa dengan harga Rp 50,- dan Rp 25,- pada tanggal 16 Nopember 1970. Kedua buah prangko   tersebut memuat gambar Iambang dunia untuk Tahun Pendidikan Internasional 1970, jang telah ditjiptakan oleh Victor Vasarely, seorang artist Perantjis kelahiran Hunggaria. Gambar  jang menundjukkan komposisi lingkaran2 memusat adalah suatu lukisan abstrak dari kepala   Manusia jang diterangi dengan Ilmu pengetahuan dimulai dari sebuah pusat jang terdapat di dahi. Selain itu poda prangko dengan harga Rp 25.- terlukis pula sebuah gambar dasar londjong jang   melukiskan statistik dalam berbagai  bidang pendidikan.
Tujuan pokok daripada TPI ialah untuk memberikan napas baru dalam bidang  pendidikan. Pendidikan tidak lagi dianggap sebagai suatu persiapan untuk hidup melainkan sebagai suatu dimensi atau bagian daripada hidup, jang mempunjai tjiri-tjiri bcrkemauan    menuntut ilmu dan menelaah ide2 terus-menerus. Sistim pcndidikan jang tradisionil jang dala banjak hal masih didasarkan kepada metode abad ke-19 sudah harus ditinggalkan dan konsep  baru jang diintegrasikan dengan kehidupan haruslah ditjiptakan. Pendidikan menurut  pengertian konsep baru ini adalah proses jang berlangsung terus-menerus sepandjang hajat seseorang.   Sistim pendidikan dewasa ini  terutama bagi  anak2  dan  para pemuda jang kelak sebagian daripada hidup kedewasaannja akan didjalani pada abad ke-21, haruslah dirombak seluruhnja baik mengenai isi maupun metodenja.
Untuk maksud itu haruslah ditingkatkan usaha-usaha bersama oleh negara2 anggota PBB dan masjarakat internasional  umumnja kearah empat tudjuan pokok, jakni:
  1. menginventarisasi situasi pendidikan sekarang ini diseluruh dunia ;
  2. memusatkan perhatian pada sedjumlah kebutuhan2 pokok baik untuk perluasan maupun untuk perbaikan pendidikan;
  3. menjediakan dana-dana jang lebih besar bagi kepentingan_pendidikan;
  4. mempererat kerdjasama internasional dalam bidang pendidikan.
Pilihan tahun 1970 sebagai TPI adalah benar dan tepat, mengingat bahwa:
  1. 1970 adalah tahun transisi antara berachirnja masa pembangunan sepuluh tahun pertama dan permulaan masa pembangunan Sepuluh tahun kedua daripada PBB.
  2. Dunia sedang menghadapi krisis dalam bidang pendidikan.
TPI adalah sama pentingnja baik bagi negara2 jang madju maupun negara2 jang sedang berkembang, walaupun tidak dapat dihindarkan bahwa titik berat daripada pcndidikan di tiap negara adalah berbeda-beda sesuai dengan masalah­masalah chusus jang dihadapinja.

TPI bukanlah peristiwa tersendiri jang terpisah, suatu perajaan belaka tanpa kelandjutan melainkan merupakan suatu saat untuk menilai usaha-usaha jang telah lalu dan jang lebih penting lagi ialah sebagai titik tolak bagi usaha pembaharuan dalam bidang pendidikan demi berhasilnja pembangunan dalam bidang ekonomi, sosial dan budaja.

*) Dari Pengumumman Filateli

Perangko Seri : TAHUN PENDIDIKAN INTERNASIONAL - 1970
Tanggal Penerbitan : 16 November 1970

Minggu, 06 Desember 2015

TAHUN 1966 

REPTILE




Prangko seri Reptile
Tanggal Penerbitan : 20 Desember 1966

Jumat, 20 November 2015

TAHUN 1980

SPICE RACE

SPICE RACE

SPICE RACE
Prangko Seri : Spice Race
Tanggal Penerbitan : 12 Maret 1980

Rabu, 11 November 2015

TAHUN 1976

KEBUDAYAAN INDONESIA KE V

KEBUDAYAAN INDONESIA KE V - 1976

KEBUDAYAAN INDONESIA KE V - 1976
Prangko Seri : Kebudayaan Indonesia ke V
Tanggal Penerbitan : 01 November 1976

Minggu, 01 November 2015

TAHUN 1978

KONGGRES GURU SEDUNIA DI JAKARTA


KONGGRES GURU SEDUNIA DI JAKARTA

KONGGRES GURU SEDUNIA DI JAKARTA
Persatuan Guru Republik Indonesia (disingkat PGRI) adalah organisasi di Indonesia yang anggotanya berprofesi sebagai guru. Organisasi ini didirikan dengan semangat perjuangan para guru pribumi pada zaman Belanda, pada tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).
SEJARAH BERDIRINYA PGRI
Pada awalnya organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri pada tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).
Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan penilik sekolah. Dengan latar pendidikan yang berbeda-beda, mereka umumnya bertugas di sekolah desa dan sekolah rakyat angka dua.
Tidak mudah bagi PGHB memperjuangkan nasib para anggotanya yang memiliki pangkat, status sosial dan latar belakang pendidikan yang berbeda. Sejalan dengan keadaan itu, di samping PGHB berkembang pula organisasi guru baru antara lain Persatuan Guru Bantu (PGB), Perserikatan Guru Desa (PGD), Persatuan GuruAmbachtsschool (PGAS), Perserikatan Normaalschool (PNS), Hogere Kweekschool Bond (HKSB), disamping organisasi guru yang bercorak keagamaan, kebangsaan atau lainnya seperti Christelijke Onderwijs Vereneging (COV), Katolieke Onderwijsbond (KOB), Vereneging Van Muloleerkrachten (VVM), dan Nederlands Indische Onderwijs Genootschap (NIOG) yang beranggotakan semua guru tanpa membedakan golongan agama.
Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi terhadap pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah kepala HIS yang dulu selalu dijabat oleh orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia. Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kemerdekaan. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka”.
Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan nama ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia.
Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.
Semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24-25 November 1945 di Surakarta. Melalui kongres ini segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan guru yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 - seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia - Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan.
Dengan semangat pekik “merdeka” bertalu-talu, di tengah bau mesiu pemboman oleh tentara Inggris atas studio RRI Surakarta, mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan:
  1. Mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia.
  2. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan.
  3. Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya.
Sejak Kongres Guru Indonesia itu, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Dari Wikipedia

Prangko Seri : Konggres Guru Sedunia di Jakarta
Tanggal Penerbitan 01 Agustus 1978