Sabtu, 28 Februari 2015

TAHUN 1959

KONPERENSI RENTJANA KOLOMBO


KONFERENSI RENTJANA KOLOMBO

KONFERENSI RENTJANA KOLOMBO

KONFERENSI RENTJANA KOLOMBO


Konferensi Rencana Colombo Tahun 1959 :
Lokasi : Univesitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Waktu : 26 Oktober s.d. 14 Nopember 1959, dalam rangkaian Konferesnai Rencana Colombo XI
Pada bulan Januari 1950 bertempat di Colombo (ibukota Srilangka) berlangsung konferensi para menteri luar negeri dari negara-negara persemakmuran Inggris. Dalam konferensi tersebut, Senayake (Perdana Menteri Srilangka) mengusulkan untuk memasukkan rencana pembanguann ekonomi. Ternyata usul tersebut mendapat tanggapan positif dari menteri luar negeri Australia.
Langkah selanjutnya dalam konferensi tersebut disusun sebuah rencana pemberian bantuan bagi negara-negara persemakmuran di Asia Selatan dan Tenggara secara kerjasama internasional dalam hal pembangunan dan perkembangan ekonomi. Rencana pembangunan ekonomi Asia Selatan dan Tengaara ini selanjutnya dinamakan “Rencana Colombo”. Nama resminya adalah “Plan for cooperative Economic Development of South East Asia” atau “Rencana Kerjasama Untuk Pembangunan Ekonomi di Asia Selatan dan Tenggara”. Adapun tujuan dari Rencana Colombo adalah untuk memajukan ekonomi neagra-negara Asia Selatan dan Tenggara dengan jalan kerjasama dan Bantu-membantu.
Pada waktu Rencana Colombo dilahirkan pada tahun 1950, anggotanya hanya terdiri dari negara-negara anggota Persemakmuran Inggris yaitu Australia, India, Inggris, Pakistan, Srilangka dan Selandia Baru, Kemudian keanggotaan itu diperluas dengan ikut sertanya Amerika Serikat dan negara-negara lainnya di Asia Selatan dan Tenggara sebagai anggota. Indonesia menjadi anggota pada tahun 1953.
Sejak menjadi anggota Rencana Colombo, Indonesia menerima bantuan ekonomi maupun bantuan teknis dari negara-negara anggota Rencana Colombo. Bantuan tersebut dipergunakan untuk pembangunan ekonomi dalam rangka mempertinggi tingkat kehidupan rakyat.
Dalam konferensi negara-negara persemakmuran Inggris yang diadakan di Sydney Australia bulan Mei 1950 dibentuklah Dewan Konsultatif (Consuatative Committee) yang beranggotakan wakil tingkat menteri negara-negara anggota Rencana Colombo. Pada bulan Oktober 1950 Dewan Consultative mengadakan sidang di London yang hasilnya bahwa dewan koncultative menyetujui akan adanya program pembangunan ekonomi.
Masa kerja Rencana Colombo, semula direncanakan untuk masa 6 tahun terhitung mulai juli 1951 sampai akhir bulan Juni 1957. tetapi rencana tersebut digagalkan karena dalam Konferensi Dewan Konsultatif di Singapura tahun 1955 diputuskan bahwa masa kerja Rencana Colombo diperpanjang sampai bulan Juli 1961. Kemudian perpanjangan masa kerja selanjutnya sesudah tahun 1961 dibicarakan dalam Konferensi Dewan Konsutatif Rencana Colombo di Yogyakarta tahun 1959
Tahun 1958 dilaksanakan Konferensi Tahunan Dewan Konsultatif Rencana Colombo ke X di Seattle Amerika Serikat. Sebagai anggota Rencana Colombo, RI juga mengikuti Konferensi tersebut. Delegasi RI dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio. Dalam konferensi tersebut RI menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah bagi Konferensi Rencana Colombo tahun1959. Sebenarnya pada tahun tersebut pemerintah Malaya pun juga menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah yang secara resmi disampaikan pada bulan Juli 1958. Namun berkat kerjasama yang baik antara delegasi RI dan Malaya, akhirnya tuan rumah konferensi Colombo 1959 diserahkan kepada pihak RI.
Setelah diputuskan bahwa Konferensi Rencana Colombo tahun 1959 akan diselenggarakan di Indonesia, maka Yogyakarta kemudian ditunjuk sebagai penyelenggara. Pemberitahuan secara resmi bahwa Konferensi Rencana Colombo tahun 1959 akan diadakan di Yogyakarta, diterima oleh pemerintah D.I.Y. tanggal 26 Desember 1958. Oleh karena itu persiapan segera dilakukan.
Penunjukkan Yogyakarta sebagai penyelenggara dalam Konferensi Rencana Colombo 1959 ini berdasarkan pertimbangan bahwa Yogyakarta sampai saat itu telah dua kali menyelenggarakan konferensi internasional yaitu International Rubber Study Group Conference bulan Juli 1957 dan ECAFE Conference bulan Oktober 1957. Atas dasar tersebut maka Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyanggupkan diri untuk menerima sebagai penyelenggara Koferensi Rencana Colombo tahun 1959.
Dalam hal pemenuhan masalah akomodasi untuk keperluan konferensi panitia memperoleh pinjaman dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang terletak di Sekip dan Bulaksumur serta gedung-gedung yang dibangun oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta di Kompleks Demangan.
Gedung yang berada di Sekp milik UGM terdiri dari tiga buah yaitu unit III, unit IV dan unit V. Unit III dan unit IV dipergunakan untuk ruang pameran, kantor delegesasi, Press Room, Kantor Pos Telegram dan Telepon, Kantor Host Committee, Toko-toko Souvenir, Kantor Cabang Bank Indonesia, Kantor GIA, Rumah Makan, Kantor Imigrasi, Ruang untuk Pemutaran Film, Klinik dan sebagainya. Sedang untuk persidangan (Main Conference Hall) menempati unit V.
Bagi para delegasi tingkat ahli disediakan penginapan di perumahan Kompleks Demangan. Sedangkan sebagai para delegasi tingkat menteri disediakan perumahan di kompleks Bulaksumur. Sedangkan Hotel Garuda dipergunakan sebagai tempat penginapan bagi para wartawan dalam dan luar negeri yang meliputi jalannya Konferensi Rencana Colombo tahun 1959.
Konferensi Rencana Colombo XI di Yogyakarta tahun 1959 diikuti lebih kurang 150 orang delegasi dari 21 negara antara lain Amirika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, Birma, Jepang, India, Pakistan, Indonesia, Kamboja, Muang Thai, Laos, Philipina, Srilangka, Singapura, Kalimantan Utara, Serawak dan beberapa peninjau dari Colombo Plan Bureau, ECAFE, UNTB,dan IBRD. Kecuali itu Konfrensi Rencana Colombo juga mendapat perhatian yang besar dari pers dalam negeri dan luar negri.
Konfrensi Rencana Colombo di Yogyakarta ini terbagi dalam dua bagian, yaitu konferensi Tingkat Ahli dan Konferensi Tingkat Menteri. Konferensi Tingkat Ahli Berlangsung dari tanggal 26 Oktober s.d. 6 Nopember 1959, sedang Konferensi Tingkat Menteri berlangsung tanggal 11 s.d. 14 Nopember 1959.
Konferensi Tingkat Ahli dibuka dengan resmi pada tanggal 20 Oktober 1959, pukul 09.00 dengan suatu upacara bendera dari salah satu Negara peserta. Adapun yang membuka konferensi adalah Suwito Kusumowidagdo selaku Sekretaris Jendral Konferensi Rencana Colombo. Materi yang dibahas adalah seluruh aspek pembangunan, ekonomi dan social. Kebutuhan akan tenaga ahli dan pendidikan mendapat perhatian khusus. Demikian pula usaha mengembangkan produksi dan kemungkinan pasaran produksi. Pada tanggal 6 Nopember 1959 pukul 16.00 Konferensi Tingkat Ahli ditutup oleh Ketua Konferensi Ismail Thaiyeb.
Konferensi Tingkat Menteri dibuka resmi pada tanggal 11 Nopember 1959 pukul 09.00 oleh Presiden Sukarno. Upacara pembukaan dihadiri selain oleh segenap delegasi dari Negara-negara peserta, juga Presiden Sukarno, beberapa menteri dari kabinet karya, wakil ketua dewan pertimbangan agung, pembesar-pembesar militer, police, sipil, para duta besar Negara asing dan para wartawan dalam dan luar negeri.
Kemudian pada tanggal 14 Nopember 1959 pukul 12.00 Konferensi Rencana Colombo tingkat menteri ditutup oleh ketua Konferensi Dr.Subandrio dengan suatu penurunan upacara bendera dari Negara-negara peserta Konferensi Rencana Colombo XI. Konferensi tersebut berakhir dengan menghasilkan sebuah komunike, yang secara garis besar sebagai berikut :
1. Dewan konsultatif Rencana Colombo XI telah menerima laporan tahunan yang meliputi perkembangan ekonomi sejak konferensi tahunan yang lalu, meliputi masalah dan tugas untuk masa depan serta usaha mengembangkan ekonomi. Laporan ini akan disiarkan di ibukota Negara-negara rencana Colombo pada atau sesudah tanggal 7 Januari 1960. Pada mukadimah yang termuat dalam bab yang pertama dikemukakan mengenai tinjauan ekonomi selama tahun yang lalu dan dalam bab ke 2 disebutkan mengenai “The task a head” atau tugas berikutnya untuk perkembangan ekonomi.
2. Singapura yang sebelum konferensi ini dalam keanggotaan Rencana Colombo masih termasuk ke dalam Kerajaan Inggris sekarang diterima anggota penuh setelah diadakan perubahan konstitusinya yang membuat Singapura menjadi Negara yang berdaulat.
3. Konferensi telah mengambil keputusan memperpanjang jangka waktu kerja Rencana Colombo dengan lima tahun lagi, terhitung mulai dari tahun 1961 dengan pengertian, bahwa dalam sidang tahunnanya dalam tahun 1964 nanti perpanjangan akan dirundingkan.
4. Dalam laporan-laporan tahunan ini dewan konsultatif menemukan hal-hal yang sangat membesarkan hati untuk mempercepat kegiatan ekonomi yaitu dalam perkembangan pertanian di beberapa Negara Asia. Perkembangan dan industri barang-barang jadi juga nampak berkembang. Makin baiknya tempat yang diduduki oleh barang barang ekspor dari daerah-daerah Asia di dalam pasaran dunia juga memberikan perbaikan dalam neraca perdagangan pada tahun 1959.
5. Dewan konsultatif mencatat adanya indikasi peningkatan pendapatan riil perkapita di daerah Asia secara keseluruhan. Kemajuan telah terjadi dalam perluasan jasa-jasa social yang esensiil di lapangan pendidikan dan kesehatan.
6. Dewan konsultatif memperhatikan bahwa pertambahan penduduk yang makin meningkat di Asia merupakan problem yang sangat berat, khususnya mengenai pengaruhnya terhadap perkembangan ekonomi.
7. Dewan konsultatif berpendapat bahwa proses perkembangan ekonomi tidak hanya tergantung pada mobilisasi sumber-sumber kekayan alam saja, tetapi tergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk itu diperlukan latihan bagi pejabat-pejabat dan pendidikan teknik ditingkatkan.
8. Konferensi Rencana Colombo yang akan datang diadakan di Jepang pada tahun 1960.
Untuk kelancaran penyelenggaraan Konferensi Rencana Colombo tahun 1959 tersebut dibentuk suatu panitia yang terdiri dari dua badan yaitu Secretariat Konferensi dan Host Committee. Tugas pokok secretariat konferensi adalah menyelanggarakan suatu yang langsung berhubungan dengan materi persidangan. Sedangkan tugas pokok Host Committee adalah menyelenggarakan segala sesuatu mengenai urusan-urusan delegasi. Kedua badan ini selanjutnya dikoordinasikan dan diintregasikan oleh suatu executive board yang terdiri atas seseorang Sekretaris Jendral dan 4 orang wakil Sekretaris Jendral, termasuk ketua Host Committee sendiri. Masing-masing badan organisasi ini kemudian dibagi lagi dalam beberapa bagian dan seksi-seksi.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertama nomor: 317/MP/1959 Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku kepala Daerah Istimewa Yogyakarta diangkat sebagai ketua dan bendaharawan Host Committee dan Sekretaris Jendral departemen luar negeri Republik Indonesia, Suwito Kusumowidagdo, diangkat sebagai coordinator penyelenggaraan konferensi. Surat keputusan menteri pertama ini kemudian disusul dengan Surat Keputusan Menteri Luar Negeri No. SP/79/PL/X/59 yang membentuk secretariat Konferensi Rencana Colombo ke XI serta menunjuk Sekretaris Jendral departemen luar negeri, Suwito Kusumowidagdo, sebagai Sekretaris Jendral dan pejabat-pejabat tinggi Indonesia lainnya sebagai staf Sekretariat Konferensi. Surat keputusan tersebut kemudian disusun dengan surat keputusan No. SP/966/PL/X59 yang menetapkan daftar terakhir para anggota staf Sekretariat Konferensi.
Sebagai pelaksana Surat Keputusan Menteri Pertama tersebut di atas, maka Kepala Daerah Istimewa Yogyakrta dengan surat keputusan nomor: 16 dan 27/K/1959 menetapkan susunan Panitia Penyelenggara Konferensi Rencana Colombo ke XI. Kemudian dengan surat keputusan ketua host committee no.24/K/19590 di Jakarta dibentuk satu cabang dari host committee untuk menyelenggarakan penampungan para delegasi yang tiba di Jakarta dalam perjalanan mereka ke Yogyakarta dan yang kemudian pulang dari Yogyakarta ke Jakarta. *)
*) http://museumvredeburg.blogspot.com

Prangko Seri "Konperensi Rentjana Kolombo"
Tanggal Penerbitan : 26 Oktober 1959


a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar